Wikana, Lahir Di Sumedang 18 Oktober

18 October 2012 08:39 WIB
 
0
Ilustrasi

ORANG Sumedang yang satu ini mempunyai peran yang sangat penting dalam pencetusan Proklamasi 1945, karena berkat koneksinya di Angkatan Laut Jepang atau Kaigun, Proklamasi 1945 dapat dirumuskan di rumah dinas Laksamana Maeda di Menteng yang terjamin keamanannya.

Dia adalah Wikana, pria asalkotatahu Sumedang lahir pada 18 Oktober 1914. Wikana jugalah yang mengatur semua keperluan Pembacaan Proklamasi di rumah BungKarno di Pegangsaan,iajuga tegang saat melihat Bung Karno sakit malaria pagi hari menjelang detik-detik pembacaan Proklamasi. Wikana kasak kusuk ke kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan teks proklamasi.

Setelah kemerdekaan jalan hidup Wikana sangat rumit, ia dianggap terlibat peristiwa Madiun 1948, namun berhasil lepas dari kejaran tentara. Bersama dengan pejuang-pejuang dari Nasionalis sayap kiri ia menghilang dan baru kembali setelah DN Aidit melakukan pledoi terhadap kasus Madiun 1948 yang mulai digugat oleh Jaksa Dali Mutiara pada 2 Februari 1955.

Namun revitalisasi PKI ditangan DN Aidit membuat Wikana tersingkir dan dianggap bagian dari golongan tua yang tidak progresif, ini sama saja dengan kasus penyingkiran kaum komunis ex Digulis oleh anak-anak muda PKI, karena tidak sesuai dengan perkembangan perjuangan komunis yang lebih Nasionalis dan mendekat pada Bung Karno.

Terakhir Wikana tinggal di daerah Simpangan Matraman Plantsoen dalam keadaan miskin dan sengsara karena tidak mendapat tempat di PKI dan diisolir oleh Aidit. Beruntung Waperdam Chaerul Saleh pada tahun 1965 menarik Wikana menjadi anggota MPRS. Pada saat penangkapan-penangkapan setelah kejadian GESTAPU, Wikana hilang begitu saja. Sampai sekarang tidak jelas juntrungannya.