WAWANCARA | Kang Dedi : Konsep Karuhun untuk Pembangunan

31 July 2016 13:35 WIB
 
0
Kang Dedi Mulyadi
Kang Dedi Mulyadi

Pilkada Serentak 2018

Ini kutipan wawancara dengan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat, Dedi Mulyadi, usai membuka acara Musda IX Partai Golkar Kabupaten Sumedang, Sabtu 30 Juli 2016. Berikut kutipannya:

Apa konsep anda dalam memajukan pembangunan dengan konsep karuhun itu?

Ya pertama adalah konsep kita membangun tanpa ideologi. Ideologinya ngambang di langit. Apalagi kalau sudah baca-baca buku-buku luar. Tetapi sebenarnya, kita mengenyampingkan ideologi yang ada di kampung kita sendiri. Ya salahsatu konsep yang berpegang teguh pada leluhur itu adalah pembangunan tidak boleh ada yang merusak, dan ada sesuatu energi yang masuk yang baru ke tempat itu, yang melahirkan perampok.

Misalnya, konsep pertanian go green itu kan konsep karuhun. Konsep basis ketahanan lingkungan, konsep karuhun. Konsep memelihara alam itu konsep karuhun, yang dikita ditinggalkan.

Kenapa? karena konsep itu kan harus tertata dalam aturan hidup yang disebut RUTR (Rencana Umum Tata Ruang, red.). Disitu nanti mengatur ruang, mana ruang hijau, mana ruang pertambangan, mana ruang tawa, mana ruang industri, sehingga terta dengan baik. Dan, lahirlah jadi akselerasi, atau harmonis.

Nah ini yang hilang dari konsep kita, karena semuanya diukur dari dibentuk kumpulan-kumpulan ekonomi uang. Jadi setiap daerah, harus menjadi uang. Padahal daerah A jadi uang, daerah B, ngga boleh. Harusnya dibuat seperti itu.

Cara mengaturnya adalah negara, APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten. Mereka itu yang mengatur ritme keuangan wilayah itu, sehingga tidak terjadi eksplitasi pada sebuah wilayah yang lebih besar.

Inilah konsep karuhun. Nah itu , di negara-negara maju itu dibuat dalam bentuk konstitusi yang memadai. Misalnya Inggris, dari dulu 400 tahun yang lalu RUTR-nya, karuhun.

Inilah sebenarnya gagasan yang saya gulirkan, yang dulu gagasan itu. Itulah gagasan yang menjadi pikiran di kampung adat.

Nah, Sosialisme, Marhaenisme, orang baca buku tentang sosialisme yang ada di luar, itu kan konsep yang ada di kampung kita sendiri. Saya katakan kampung adat itu sosialis loh. Dia tidak ada tanah, yang ada adalah tanah adat, tanah adat di kelola bersama, kemudian hidupnya mengatur bersama. Sareundeuk, saigel, sabobot, sapihanean, tidak ada kaya dan miskin. Semua orang setara, sosialisme. Itu ada di Sunda.

Jadi bisa menjadi penyeimbang kehidupan yang kebarat-baratan?

Itulah ideologiyang harus dihidupkan. Seperti yang saya sebutkan, apa sih bedanya orange juice, sama es jeruk, kan sama. Apa bedanya lalab dengan salad, kan sama. Perubahan-perubahan bahasa itu menghasilkan mode, mode itu menghasilkan harga. Jadi kita beli harga yang mahal itu, itu beli mode saja.

Nah, yang harus dilakukan oleh kita hari ini adalah orang-orang enterpreneurship, harus mencoba mengadvokasi tradisionalisme itu, menjadi berbobot.

Ternyata saya jualan sate di Amerika, laku loh.

Bagaimana dengan Golkar saat ini?

Golkar harus kembali pada doktrin ideologi, jangan hanya sekedar Partai menang Pilkada, menang pemilu, tapi tidak ada bobot yang diperjuangkannya apa. Menurut saya, sebagai orang Sunda, bobot yang diperjuangkan, dan tegakan nilai-nilai etis lingkungan, prinsip-prinsip pembangunan yang berdasarkan spirit karuhun. Kearifan lokal orang menyebutnya.

Jadi istilah-istilah itu?

Istilah-istilah itu di modekan. Misalnya saya kan, sate maranggi jadi original maranggi grill. Karena dibayangin orang Amerika, ketika makanan kita maranggi di sana tetap berbahasa Amerika.

Golkar Konsisten dengan Kesundaan?

Ya kalau di Jawa Barat, Golkar konsisten dengan kesundaan. Kalau di Jawa Tengah, konsisten dengan ke-Jawa-an. Disitulah ke-bhinekaan sebagai negara.***