Wabup Sumedang, Canangkan Gempita

4 February 2016 01:44 WIB
 
0
Wabup Sumedang, Canangkan Gempita
Wabup Sumedang, Canangkan Gempita

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Wakil Bupati H Eka Setiawan, Rabu (3/2), meresmikan Gerakan Masyarakat Menanam Peduli Hutan dan Lingkungan (Gempita) yang ditandai dengan penanaman 2000 bibit pohon kawasan hutan lindung Gunung Geulis Dusun Lunjuk Desa Cisempur Kecamatan Jatinangor.

Pencanangan dihadiri oleh Forkopimda Kabupaten Sumedang, unsur BPLDH dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Biro Ekonomi Setda Provinsi Jawa Barat, para Kepala SKPD Kabupaten Sumedang, Camat, pimpinan BUMN, BUMD, dan Swasta, serta perwakilan Perguruan Tinggi yang ada di kawasan Jatinangor, Kepala UPTD/UPTB, dan organisasi peduli hutan dan lingkungan.

Selain penanaman pohon, dibacakan pula Deklarasi Sumedang Gempita yang ditandatangani oleh seluruh perwakilan peserta, baik dari aparat pemerintah maupun masyarakat, sebagai bentuk komitmen bersama dalam perlindungan, pelestarian, dan pengawetan sumber daya alam hayati berikut ekosistemnya.

Penanaman diawali dengan penyerahan bibit pohon dari perwakilan pengusaha kepada Wakil Bupati Sumedang yang selanjutnya diserahkan kepada pemerintah desa dan warga setempat untuk ditanam di kawasan tersebut yang terdiri dari jenis Suren, Trembesi, Mahoni, Damar, dan Kemiri Sunan. Turut pula dilepaskan sejumlah burung jenis Jogjog dan Cangkurileung di kawasan hutan tersebut sebagai tanda dicanangkannya Sumedang Gempita.

Menurut laporan Puji Hutomo dari Biotropics Institute selaku panitia penyelenggara, Gempita merupakan gerakan moral dan aksi masyarakat dengan pendekatan kolaboratif. “Gerakan ini melibatkan peran semua pihak baik industri, masyarakat, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan dan lainnya sehingga membuktikan bahwa masyarakat mampu memberikan kontribusi nyata dalam penyelesaian permasalahan hutan dan lingkungan,” ujarnya.

Dikatakan olehnya, sumber daya alam hayati dan ekosistem yang ada di wilayah Kabupaten Sumedang sebagai kawasan hulu DAS Citarum memiliki nilai manfaat sebagai penyangga kehidupan. Namun pada kenyataannya, kekritisan lahan dan kerusakan lingkungan terus terjadi sehingga mengundang terjadinya defisit air.“Oleh karena itu, kita bersama-sama saling bahu membahu memberikan kontribusi dalam upaya kegiatan penyelamatan hutan seperti yang dilaksanakan sekarang ini,” tuturnya.

Ia juga berharap selanjutnya di Kabupaten Sumedang dapat terbentuk konsorsium mitra konservasi. “Melalui konsorsium ini diharapkan pemanfaat jasa lingkungan seperti kalangan industri dapat berkontribusi dalam kegiatan perlindungan, pelestarian dan pengawetan hutan dan lingkungan sehingga masalah hutan dan lingkungan dapat ditangani secara bersama-sama,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Bupati H Eka Setiawan menghimbau agar kegiatan penghijauan tersebut dilakukan pula di semua kecamatan di Kabupaten Sumedang. “Tidak hanya di sini, para Camat juga harus menginisiasi gerakan penghijauan di wilayahnya masiing-masing mengingat Sumedang saat ini masih memiliki 14 ribu hektar lahan kritis,” ucap Wabup.

Menurut Wabup, kesibukan untuk kepentingan ekonomi telah melalaikan manusia dari peduli lingkungan. “Kita sibuk mencari keuntungan ekonomi sehingga lupa akan tanggung jawab kita terhadap alam dan lingkungan. Sudah waktunya bagi kita memperbaiki apa yang telah kita rusak,” ungkapnya.

Wabup menyatakan bahwa ketersediaan air di wilayah industri dan perumahan sangat bergantung kepada kondisi hutan. Oleh karena itu, ia meminta semua pengusaha yang ada untuk terus memberikan sumbangsihnya demi kelestarian hutan. “Di hutan Gunung Geulis ini sering terjadi kebakaran bahkan longsor. Padahal ia adalah sebagai penyangga wilayah perkotaan yang ada di bawahnya. Untuk itu, mari kita jaga dan pelihara bersama-sama,” tuturnya.

Dikatakan pula bahwa saat ini Pemkab Sumedang dengan dibantu unsur TNI sedang berusaha untuk mencetak 5800 hektar sawah baru untuk mensukseskan program ketahanan pangan. Namun semua itu akan sia-sia jika pengairannya tidak ada. “Kalau tidak ada airnya, buat apa kita bikin sawah. Karena pertanian itu sangat bergantung akan ketersediaan air,” katanya.