Ssst ini ternyata makna dari nama Ciung Wanara

9 June 2017 02:39 WIB
 
6
Ilustrasi
Istimewa
Ilustrasi

Mengenai Ciung Wanara ada hal menarik dalam babad/sajarah/serat Jawa/bahan cerita tertulis, yaitu mengenai perpecahan Kerajaan Jawa Kuno (Galuh) di bagian barat Kerajaan Pakuan Pajajaran dan di sebelah timur Mojopahit..

Di Jawa Barat hal ini dikenal secara lisan dan didramatisir oleh Barden sebagai pantun-epos.. Di sini diambil ceritanya dari Babad Pakuan sumber agak tua (1862) dalam bahasa Sunda-Cirebon dalam garis besarnya: (Danasasmita et.al. 1977. Gesang Pupuh III – VI).

Raja Galuh (Tamperan Barmawijaya) membuang bayinya yang baru lahir ke sungai, karena takut kutukan seorang pertapa (Permana Dikusumah/Ki Ajar Padang) yang dibunuhnya. Kerajaan diperintah oleh putranya Aria Banga/Hariang Banga dan Tamperan Barmawijaya menarik diri mengawasi 800 pandai besi kerajaan (Pandhe dhomas/Panday Domas).

Anak buangan tadi dipungut dan dipelihara Aki Balangantrang (Arya Bimaraksa bin Jantaka bin Wretikendayun) dan istrinya (Ratu Komalasari binti Purbasora binti Wretikendayun) Waktu dewasa dia hendak mencari orang tuanya, tapi disuruh ke Lurah Ki Ajali, pamannya di ibukota. Di perjalanan dia ketemu burung Ciung dan Kera Wanara dan dinamakannya dirinya seperti itu.

Pada Ki Ajali dia cepat jadi ahli dan membuat senjata sakti dengan tangan dan ludah. Di kota dia memukul sang terlarang hingga ditangkap dan dihadapkan ke raja.

Setelah menuntut ayahnya bagian warisan, dia mendapat panday domas, yang disuruhnya membuat kandang besi. Ayahnya dikurung di sini dan kurungan dikunci dengan ludahnya.