Sambel Kanjeng Pangeran, Maknyos

18 March 2012 19:56 WIB
 
0
1406
Cici (50) warga Dusun Pamulihan, Desa Wanakerta, Kecamatan Situraja, memperlihatkan cara membuat Sambel Kanjeng Pangeran, sambel tersebut konon paling disukai gegeden Sumedang Larang, saat berburu di Pamulihan.
Cici (50) warga Dusun Pamulihan, Desa Wanakerta, Kecamatan Situraja, memperlihatkan cara membuat Sambel Kanjeng Pangeran, sambel tersebut konon paling disukai gegeden Sumedang Larang, saat berburu di Pamulihan.
Cici (50) warga Dusun Pamulihan, Desa Wanakerta, Kecamatan Situraja, memperlihatkan cara membuat Sambel Kanjeng Pangeran, sambel tersebut konon paling disukai gegeden Sumedang Larang, saat berburu di Pamulihan.

Sambel Kanjeng Pangeran atau sambel Pamulihan, disebut demikian karena konon sambel tersebut, menurut keterangan Kepala Desa Wanakerta, Kecamatan Situraja, Dede Rohmat R, semasa jaman Babad Mataram sekitar tahun 1500-1600 sangat disukai oleh Pangeran Sumedang Larang yang berburu ke Tanah Pamulihan.

“Kalau semasa siapanya saya sendiri tidak begitu mengetahui, karena sewaktu saya mendapatkan cerita dari kakek saya yang sudah berusia 90-tahunan, kata kakek saya juga masih menurut katanya, namun diperkirakan semasa Babad Mataram tahun 1500-1600,” ujar Dede Romat R, Kades Wanakerta ditemui Sumeks di Kantornya, Rabu (14/03).

Dituturkan kembali Dede, dahulu ada seorang Pangeran di Kerajaan Sumedang Larang yang suka berburu ke hutan, dan sampai ke tanah Pamulihan yang kala itu masih berupa hutan dan penduduknya masih jarang. Sang Kanjeng Pangeran, ketika itu merasa lapar dan beristirahat di Tanah Pamulihan.

Mendapat kedatangan Kanjeng Pangeran, penduduk segera membuat sambel untuk teman nasi sang Pangeran. Cerita lain pengawal pangeran saat itu mengulek sendiri sambel di Tanah Pamulihan itu kemudian coet dan mutunya, tertinggal di sana.

“Setelah makan sambel itu, konon tenaga pengawal dan Pangeran itu kembali pulih, mungkin karena itulah tanah ini dinamakan Pamulihan, karena mampu memulihkan tenaga Pangeran hingga ia kembali berburu,” lanjut Dede.

Hingga saat ini sugesti dari kekuatan sambel tersebut terus diyakini masyarakat setempat dapat memulihkan tenaga, hingga tak heran sebelum beraktifitas mereka makan terlebih dahulu sambel. Lebih lanjut dikatakan Kades, tidak ada hal istimewa dari rempah-rempah yang digunakan untuk pembuatan sambel Pamulihan itu. “Rempah-rempahnya itu sama seperti sambel pada umumnya, cengek, muncang, suuk sangray, tarasi bila suka, laja, sereh, salam, bawang merah dan putih, gula dan garam, jadi tidak ada yang khusus sih, cuman rasanya kalau dibuat di Pamulihan memang terasa beda,” terangnya.

Disebutkan Kades, sambel Pamulihan menjadi salahsatu trade mark dan produk unggulan Desa Wanakerta, saat Bursa RIPP tahun lalu saja, sambel Pamulihan yang diberi label Sambel Kanjeng Pangeran banyak diburu warga, selain dari rasa yang enak, mereka pun penasaran dengan nama label tersebut.

“Banyak yang penasaran dan ingin merasakan rasa pedas dari sambel Kanjeng Pangeran, waktu itu kita buat sengaja mendadak sebelum berangkat ke bursa Pameran pagi-pagi sekali kita buat di sini. Kalau dibuat sebelumnya kami takut akan beda rasa, dan kami memang ingin membuat yang masih segar,” lanjutnya.

Sedang untuk pengembangan ke depan Sambel Kanjeng Pangeran itu, rencananya akan diolah secara produksi oleh anggota Simpan Pinjam Perempuan (SPP) dari Program PNPM. Lain dari itu banyak pihak terutama Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sumedang yang melirik untuk mengembangkan usaha itu.

“Tidak sampai punah, karena kalau ada acara-acara di Desa suka dijadikan sebagai oleh-oleh. Rencananya, akan dikembangkan oleh anggota SPP yang ada di sini, terus juga sewaktu kita ikut di Bursa Pamera RIPP ada minat dari Disperindag untuk mengembangkan usaha ini,” ujarnya.

Menurut Kades, banyak produk unggulan yang dapat dikembangkan di desa sebelah utara Kecamatan Situraja, seperti mangga yang mampu dipasarkan secara masal ke Pasar Caringin, Bandung, mencapai lebih dari seribu ton dalam setahun. Produk lainnya yang dapat dikembangkan dari Desa hasil pemekaran dari Desa Sirnasari ini, adalah kacang gondolo, dikatakan Kades, Desa Wanakerta mampu memproduksi kacang gondolo dalam setahun hingga 200 ton, kacang-kacang tersebut dikirim ke Cikijing.

“Kita memang lemah dalam proses pasca panen, jadi sayang seperti kacang gondolo, yang ditanam di Wanakerta, dijual di Cikijing sehingga seakan-akan itu produk dari Cikijing padahal itu produk dari desa kami,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Camat Situraja, Syarief Efendi Badar, membenarkan jika banyak potensi yang patut digali di Desa Wanakerta, salahsatunya adalah sambel Kanjeng Pangeran itu. “Saya sendiri baru tahu adanya sambel itu ketika dari Desa Wanakerta mengirimkan produk unggulan ke pameran Bursa RIPP.

Saya sendiri merasa penasaran dengan nama Sambel Kanjeng Pangeran, konon menurut keterangan warga di sana dulu zaman raja-raja ada yang suka berburu, dan sewaktu istirahat dijamu sambel itu,” tutur Syarif.

Dikatakan Syarief, sambel Kanjeng Pangeran sewaktu di pamerkan menggunakan cup seperti kemasan air mineral, dengan pengemasan yang bagus, Syarief yakin kedepannya, sambel Kanjeng Pangeran dapat dikembangkan.(ign)