Psikologis Anak Genangan Jatigede, Mulai Enggan Sekolah

31 January 2016 23:42 WIB
 
0
BUJUK: Ketua Forum Komunikasi Sumedang Motekar, Herman Suryatman, bersama Kepala Bidang Dikdas Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Adam dan Guru Kelas SDN Bojongsalam, Tita Rostiawati, saat memberi semangat pada salah seorang siswa yang enggan sekolah, di Pamondokan, Jatinunggal, Sabtu (30/1).
BUJUK: Ketua Forum Komunikasi Sumedang Motekar, Herman Suryatman, bersama Kepala Bidang Dikdas Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Adam dan Guru Kelas SDN Bojongsalam, Tita Rostiawati, saat memberi semangat pada salah seorang siswa yang enggan sekolah, di Pamondokan, Jatinunggal, Sabtu (30/1).

WADO – Nasib anak korban genangan waduk Jatigede makin memprihatinkan. Air genangan bendung Jatigede tak terbendung terus meninggi menggenangi setiap jengkal tanah di kawasan genangan. Sebelumnya SDN Cisema, SDN Sadang, SDN Cipaku, SDN Kebon Kopi dan daerah Darmaraja lainnya sudah tergenang. Kini air genangan tanpa kompromi mulai menembus Wado, SDN Bojong Salam sudah tergenang, berikutnya SDN Sundulan, SDN Pasir Masigit, SDN Buah Ngariung dan yang lainnya lambat laun menyusul.
“Sekolah kami sudah terendam, proses pembelajaran anak-anak bergabung dengan sekolah lain. Dari 28 siswa, 21 siswa dititipkan ke SDN Sindang Asih, 2 di SDN Wado, 3 di SDN Buah Ngariung, 1 di SDN Cibugel. 1 siswa di SDN Sukamaju,” ungkap Tita Rostiawati, guru kelas SDN Bojong Salam yang masih bertahan dan sekarang turut mengawal dan membimbing siswa di SDN Sindang Asih, Sabtu (30/1).
Dari berbagai dampak sosial Jatigede yang belum terantisipasi dengan baik serta luput dari perhatian adalah bidang pendidikan, khususnya menyangkut kondisi psikologis siswa. Dari 19 sekolah dasar dan 2 sekolah menengah pertama dengan jumlah siswa sekira seribu lebih, sama sekali belum mendapatkan bimbingan dan konseling psikologis pasca direlokasi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Komunikasi Sumedang Motekar, Herman Suryatman, menyampaikan keprihatinannya. “Kami menghargai upaya Pemda dalam mengantisipasi dampak sosial Jatigede, tapi ada yang luput dari perhatian, yakni psikologis anak-anak sekolah. Seperti sederhana tapi sangat penting karena menyangkut perkembangan kejiwaan anak ke depan,” kata Herman.
Sebagai contoh, Wardiansah siswa kelas 5 SD Buah Ngariung, sudah 2 minggu tidak berkolah. Selain karena ketidakpastian tempat pembelajaran, Wardiansah enggan ke sekolah karena trauma dengan dinamika perpindahan kedua orangtuanya pasca penggenangan.
Di lapangan tentu banyak siswa lainnya yang mengalami kendala psikologis seperti itu. Terlebih orang tua maupun guru saat ini lebih konsentrasi memikirkan perpindahan masing-masing dengan berbagai konsekuensinya.
Herman melihat realita di lapangan, persoalan pendidikan kurang mendapatkan perhatian serius. Jangankan memperhatikan psikologis anak-anak, persoalan sarana dan prasarana serta bagaimana proses pembelajaran berlangsung saja, sebagian diantaranya berpacu dengan air genangan.
“Tidak terlihat ada perencanaan dan penanganan yang tanggap dan cepat. Terakhir 28 anak-anak SDN Bojong Salam sempat kebingungan bagaimana melanjutkan pembelajaran. Kejadian SDN Cisema terulang kembali,” kata Herman.
Karena itu, Herman meminta semua pihak, khususnya Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan untuk segera melipatgandakan kecepatan dalam menangani berbagai permasalahan di lapangan. Tidak hanya sekedar rapat-rapat dinas di kantor dan mengandalkan anggaran formal, tetapi harus turun ke lapangan dan memobilisasi partisipasi warga masyarakat.
“Hari ini, kami bersama Dinas Pendidikan Provinsi melakukan checking langsung ke SDN Sindang Asih dan tempat relokasi di Pamondokan. Insyaallah dalam waktu dekat akan turun tim dari provinsi, bersama relawan dari Paguyuban Motekar akan memberikan bimbingan dan konseling kepada para siswa,” ujar Herman.
Herman berharap rencana spontan ini akan gayung bersambut dan didukung sepenuhnya oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang. “Saatnya kita bahu membahu memperhatikan anak-anak. Mereka adalah pemilik masa depan Sumedang yang harus diselamatkan. Kami mohon dalam situasi seperti ini Pemda bertindak cepat dalam koridor manajemen tanggap darurat,” tegas Herman.**