Pernyataan Kabid Dikdas, Diprotes

8 August 2011 08:24 WIB
 
Garasi di Sulap Jadi Ruang Belajar. Foto:Igun Gunawan

DARMARAJA – Pernyataan Kasubag Pendidikan Dasar, Unep Hidayat, S.Pd., M.Si, yang menyatakan bangunan SDN Marongpong yang ambruk hari Jumat (29/7) lalu tak perlu diperbaiki karena berada di daerah genangan Jatigede, kontan menyulut reaksi berbagai pihak, mereka pada umumnya mengecam atas pernyataan Kasubag Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang itu (baca sumeks edisi Jumat (5/8)).

Sebelumnya pernyataan sikap serupa juga dilontarkan pentolan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di DPRD Kabupaten Sumedang, Drg. Rahmat Juliadi, seolah-olah pernyataan Unep tersebut memvonis langsung warga OTD Jatigede, padahal Pemerintah Kabupaten Sumedang pun selama ini belum dapat memastikan kapan bendungan tersebut beroperasi.

Senada dengan Drg. Rahmat Juliadi, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) Pemantau Independen Kinerja Aparatur Pemerintah (PIKAP), Asep Soma, menyayangkan pernyataan sikap Kabid Pendidikan tersebut, ia menilai pernyataan sikap yang dilontarkan Drg. Rahmat Juliadi lebih berpendidikan daripada lontaran kalimat Kabid Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang itu.

“Andai dalam musibah kemarin itu ada korban jiwa, kalau melihat dari pernyataan yang dikorankan kemarin (Jumat lalu,red.), saya yakin Unep akan cuci tangan, karena menganggap permasalahan mendasarnya itu, wilayah tersebut ada digenangan Jatigede, sehingga kalau ada dampak buruk, mereka cuci tangan,” kata Asep Soma geram.

Asep menilai, tidak seharusnya, Unep, melontarkan kalimat yang dapat menyinggung perasaan warga OTD. Pertimbangan bahwa jumlah murid di SDN tersebut hanya berjumlah 48 orang tidak dijadikan alasan pembangunan infrastruktur pendidikan terabaikan.

“Pendidikan itu mau jumlah anak didiknya berapa pun tidak usah dipermasalahkan, apalagi ada kaitannya dengan Wajib Belajar Sembilan tahun, kalau dari 48 siswa itu tidak bersekolah, apa dia mau mempertanggung jawabkannya, cobalah lihat dulu sebelum memberikan pernyataan itu, mereka itu berada di satu daerah yang secara geografis jauh ke lingkungan pendidikan yang ada di sekitarnya, kalau pun ada yang dekat itu harus melintas sungai Cihonje,” lanjut Asep.

BACA JUGA  ANGGARAN PENDIDIKAN NAIK 20 PERSEN, PERLU PENGAWASAN

Pernyataan Asep pun dibenarkan guru pengajar di SDN Marongpong, menurut mereka, murid-murid di SDN Marongpong sudah pernah belajar ke SDN terdekat yang masih di wilayah Desa Leuwihideung, namun mereka terkendala dengan aliran sungai Cihonje.

“Dulu pernah mereka belajar di SDN Leuwihideung, tapi satu minggu mereka tidak sekolah, alasannya karena air sungai Cihonje tidak dapat dilalui, akhirnya mereka kembali ke SDN Marongpong, daripada keselamatan jiwanya terancam,” kata guru tersebut.

Pernyataan Unep pun ternyata berbeda dengan apa yang disampaikan Kabid Prasarana di Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang. Dikatakan guru tersebut, Kabid Prasarana telah meninjau ambruknya SDN Marongpong hari Selasa (2/8) lalu, ia bahkan berjanji akan merehabilitasi bangunan yang lama dan membiarkan bangunan yang baru (yang ambruk,red.).

“Kemarin sewaktu Kabid Prasarana meninjau ke SD ini, dia mengatakan akan direhabilitasi, bahkan sekarang sedang dilakukan lelang, namun kata Pak Kabid itu, yang akan diperbaiki hanya bangunan yang lama, kalau yang baru (yang ambruk, red.) memang tidak akan diperbaiki, kami tidak mempermasalahkan mau dibangun satu atau dua sekaligus, dengan satu bangunan yang laik pun kami sangat bersyukur, tinggal mungkin kami nantinya mensekat-sekat ruangan,” lanjutnya.

Lebih lanjut ia menyebutkan saat ini siswa-siswi SDN Marongpong yang mengungsi di rumah penduduk milik olot Undang itu, terus mempertanyakan nasib mereka, sejauh ini guru hanya mampu mengatakan, pengungsian mereka tidak akan lama.(igun gunawan)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.