Perjalanan Hidup Tukang Parkir di Jatinangor

5 September 2014 17:20 WIB
 
0
1771

JUNED salahseorang juru parkir di salahsatu kampus di Jatinangor.
JUNED salahseorang juru parkir di salahsatu kampus di Jatinangor. Foto: As Nur Forkowas/SO
JATINANGOR – Juru parkir kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Bahkan, tidak sedikit ejekan yang diberikan, mengingat selain profesinya di lapangan, juga identik dengan preman.
Namun dibalik itu semua, pendapatan jadi juru parkir lumayan bisa untuk menutupi kehidupan sehari-hari. Seperti yang dijalani Juned (35), warga Kecamatan Jatinangor, dengan menjadi juru parkir di salah satu perguruan tingga yang ada di kawasan pendidikan tersebut.
Pekerjaan yang dilakoni Maman setiap harinya, tidak pernah membuatnya merasa lelah dan malu untuk terus menajalani kehidupannya. Selama 14 tahun, Ia tetap setiap menjadi juru parkir dengan segala keterbatasan.
Dengan waktu yang terbilang lama, Juned menjadi sosok yang cukup dikenal oleh mahasiswa. Apalagi, ciri khasnya dengan mengenakan topi di kepalanya dan sikap ramah yang diperlihatkan, membuatnya disukai para mahasiswa.
Namun, dari semua itu, ada hal penting yang mungkin bisa dicontoh dari kepribadiannya, yakni tidak pernah melupakan ibadahnya. Setiap ada waktu lenggang, Juned selalu menyempatkan diri ke mushola untuk mengaji.
Diakuinya, sebagai umat muslim, Ia tak mau ketinggalan berburu amal untuk bekal di akhirat kelak. Meski terbilang bukan orang berada selama hidup di dunia, ia tak mau menjadi susah di akhirat.
“Kapan lagi mau menjalani ibadah, kalau bukan sekarang. Karena mati seseorang hanya Allah yang menentukan,” kata Juned saat berbincang dengan SumedangOnline, Jumat (5/9).
Setiap bulan, Juned mendapatkan penghasilan dari profesinya itu sekitar Rp 1 juta. Meski dirasa masih kurang, dirinya tetap bersyukur dengan apa yang sudah didapat melalui kerja kerasnya.
“Semua pekerjaan apabila dikerjakan dengan ikhlas dan sabar, Insyaallah akan membawa berkah untuk yang menjalaninya,” ucapnya.***
Reporter:As nur – Forkowas