Pedagang Ikan, Ingin Segera Tempati Kios Hibah

11 February 2012 09:57 WIB
 
1
Seorang pedagang sedang melakukan transaksi.
Seorang pedagang sedang melakukan transaksi.
Seorang pedagang sedang melakukan transaksi.

WADO – Untuk kesekian kalinya, sejumlah pedagang ikan di pasar Wado mempertanyakan kapan kios pasar ikan yang dibangun dari bantuan hibah Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sumedang dapat dioperasikan. Padahal bangunan kios itu telah lama selesai.
Sejumlah informasi yang dihimpun Sumeks bahkan mengatakan beberapa janji manis Dinas terkait, mereka menyebut adanya informasi jika pengoperasian kios-kios itu akan dilakukan pertengahan bulana puasa lalu, namun hingga saat ini, kios tersebut masih tetap kosong.
“Dari dulu saya mendengar informasi jika kios ikan itu akan dioperasikan pertengahan bulan puasa, kemudian berkembang pertengahan bulan selanjutnya, tahu bulan apa?  Nepi ka bararosen ngadanguna ge. Padahal saya sudah terdaftar dan persyaratannya pun sudah saya lengkapi,” papar Enok (39), pedagang ikan mas dan mujaer di pasar Wado, ditemui Sumeks, Jumat (10/2).
Meski penjualan terbilang normal, namun ia mengaku terkadang pembeli sedikit kesulitan untuk masuk ke lokasinya, pasalnya di depan tokonya saat ini berdiri bangunan pasar sementara yang menutupi kiosnya.
“Ya, kalau harapan saya inginnya segera saja menempati kios baru, karena di sini rada terhambat akibat ada bangunan Pasar Sementara, kalau sebelumnya kan pembeli dapat melihat langsung sekarang tidak,” lanjutnya.
Senada dengan Enok, pedagang ikan laut dan basah yang dikenal warga pasar paling laris, Handi Rohandi (61), ia pun berharap Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sumedang agar segera membuka kios pasar ikan untuk segera ditempati pedagang apalagi ini merupakan bantuan hibah.
“Semua pedagang ikan berharap jika kios itu segera untuk ditempati, karena sampai saat ini belum diisi, kalau dari pertemuan kemarin katanya kalau dibuka sekarang akan menganggu proses pembangunan kembali pasar Wado, tapi saya kira tidak akan sampai menganggu,” jelasnya.
Handi yang setiap hari buka kios mulai pukul 03.00 dinihari, bahkan terpaksa harus berdagang dalam gowok seluas 2×2 meter dalam area pasar sementara, luasan areal tersebut memang tidak memadai untuk penjual ikan, bahkan untuk menyimpan bak pun tidak bisa.
“Saya yang terakhir didata masuk menjadi bagian dari kios itu, saya juga heran kenapa saya sampai terakhir, apa karena waktu verifikasi itu dilakukan jam 12.00 siang, hingga mereka melihat saya tidak berjualan ikan, padahal sudah habis, coba kalau pagi-pagi datang ke sini, mereka pasti melihat ikan-ikan yang saya jual,” ucapnya. Meski Demikian, Handi, mengaku beruntung mendapat bantuan hibah tersebut, ia pun berharap pemerintah untuk segera membuka kios tersebut.
Ditanya apakah setelah pembukaan kios ada kecemburuan sosial dari pedagang lainnya yang masih menempati pasar sementara, Handi yakin hal itu tidak akan terjadi.
“Justru kalau tidak dipercepat akan menjadi masalah, ada apa?” ungkapnya.
Sementara itu beredar kabar, jika pembukaan kios akan dibuka tanggal 15 Februari ini, namun hal itu dibantah UPTD Peternakan dan Perikanan Wado. Menurut Leti, justru pihaknya hingga saat ini masih menunggu keputusan dari Pusat karena dalam pelaksanaannya dilaksanakan berbarengan dengan pasar Sumedang.
“Bukan tanggal 15, tapi kita masih menunggu hibah dari Jakarta yang belum beres surat-suratnya, karena disamakan dengan pasar Sumedang, yang surat-suratnya belum selesai. Untuk perkiraan berapa lama lagi, saya belum tahu. Saya juga memahami pasti banyak yang bertanya-tanya kapan, karena Kios Wado sudah lama kan,” jelasnya dikonfirmasi Sumeks melalui selulernya.(SUMEKS/ign)

1 COMMENT