MONYET BAGONG SERANG CIMARGA

30 June 2011 18:15 WIB
 
0

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Ilustrasi

CISITU – Sudah jatuh tertimpa tangga mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk warga di Desa Cimarga Kecamatan Cisitu, pasalnya setelah mereka kesulitan air irigasi untuk lahan pertaniannya akibat masuknya musim kemarau, mereka pun dibuat pusing dengan mewabahnya kera dan bagong yang menghancurkan lahan pertanian. Seperti yang terjadi dikawasan Cilimus, Cipicung, Ciparigi, Cikareo, Cimacan terutama di daerah – daerah yang ada sawah dan perkebunan.

Menurut Ny. Mulyati warga desa Cimarga mengaku, hama kera dan babi selalu bergantian menyerang tanaman padi dan kebun mereka. Biasanya kalau siang giliran hama kera yang menyerang dalam jumlah ratusan, sementara jika malam tiba giliran babi hutan atau mereka sering menyebutnya bedul, yang menggasak lahan pertanian.

Bukan tidak diupayakan penanganan oleh warga namun karena populasi kera dan babi yang banyak, hingga warga pun kewalahan.

“atos dugi ka dijaring, bikin luba – lubang perangkap, aya oge anu dipager, tapi angger we teu tiasa ngajaga padi dari serangan hama bedul dan kera,” ungkapnya.

Hal yang sama diungkapkan Ny. Imas (45) dan Utarsih (46), kakak beradik yang kesehariannya bertani ini, mengaku kera-kera itu masuk ketanaman padi dari mulai umur tanaman padinya masih kecil hingga siap panen.

“kalau umur padinya kecil itu mereka cuman mengacak-ngacak saja, tapi kalau umur padi sudah mulai berbuah, mereka parol (diambil bulir buahnya saja, red.) hingga yang tertisa batang padinya saja” paparnya.

Warga yang kesal pun bahkan ada yang sempat meracuni kera dengan seperti dituturkan salahseorang warga di warung dekat pintu masuk ke makam Gunung Lingga.

“populasinya sekarang sudah agak berkurang karena waktu itu pa Omod  memberinya portas (racun,red), ayalah ka 500 mah monyet anu karacun”papar pemuda itu, ia menyebutkan saat itu orang yang bernama Omod memberikan racun di buah pisang.

Kepala Desa Cimarga melalui Sekretariat Desa Cimarga Muklis, membenarkan jika antisipasi untuk mengurangi populasi hama tersebut dengan cara di racun, selain diracun desa pun sempat mendatangkan pemburu dari daerah Baduy Banten.

Ia menyebutkan daerah yang paling parah diserang oleh kera daerah Cilimus dan Cipicung yang mencapai luas lahan sekira 30 ha. Sementara untuk babi hutan sendiri hampir disetiap wilayah ada, bahkan didaerah translok Simpurmayung babi-babi tersebut masuk ke wilayah pemukiman.

Dari hasil perburuan dan dijaring selama lima kali perburuan sejak tahun 2007 sedikitnya telah ditangkap hampir 900 ekor kera. Namun sejauh ini Desa Cimarga belum dapat memanfaatkan potensi tersebut sebagai wahana wisata perburuan.

Ditanya masalah kerugian Muklis enggan memberikan gambaran karena mewabahnya hama kera dan bagong memang bukan merupakan barang baru bagi daerahnya, namun lebih meningkat populitasnya ketika ada pembukaan lahan hutan untuk pemukiman.

“mungkin karena pembukaan lahan itulah, monyet dan babi itu akhirnya pindah” pungkasnya.(igun gunawan)