Menyoal Pandangan Terhadap Perempuan Dalam Kontes Miss World

26 June 2013 07:21 WIB
 
0
1717

HTI
HTI
Oleh : Ekha Putri Minangsih Subara

Penyelenggaraan Kontes Miss World yang disiarkan di televisi tentu akan membawa pengaruh global. Bukan saja bagi tempat penyelenggaraan secara langsung tapi berdampak pula pada masyarakat secara umum khususnya perempuan. Tidak bisa dipungkiri cara pandang terhadap perempuan akan berpengaruh terhadap penyikapan kontes Miss World. Sebagian kalangan menganggap acara ini berdampak pada meningkatnya angka kunjungan pariwisata, perdagangan dan penyiaran di Indonesia. Hingga sangat penting dilaksanakan.

Namun di sisi lain, penting kita cermati. Kontes ini akhirnya menyeret perempuan dalam kubangan industri pariwisata, perdagangan dan penyiaran itu sendiri. Sayangnya posisi perempuan dalam industri tersebut hanya sebagai etalase pajangan produk-produk industri tadi. Lebih miris, etalase itu lebih bersifat fisik. Kecantikan tubuh permpuan. Sudah rahasia umum kontes seperti ini di belakangnya ada industri kosmetik, fashion dan hiburan yang menggunakan profile kecantikan kontestan sebagai promosi produk.

Jargon 3 B (Beauty, Behaviour dan Brain) secara fakta tetap memiliki bobot terbesar pada kecantikan. Tidak ada standar khusus untuk kepribadian dan kecerdasan yang harus dimiliki oleh kontestan Miss World untuk jadi pemenang. Pun waktu penilaiannya hanya selama 1 bulan dalam karantina bukan berdasarkan hal yang sudah dilakukan sebelumnya dalam kehidupan kontestan yang berguna bagi masyarakat. Misalnya sebelumnya para kontestan adalah pencetus dan pengelola pemberdayaan masyarakat untuk masalah sampah, anak jalanan, banjir, kemiskinan dll.

Sebagai negara muslim terbesar, Indonesia yang menjadi tuan rumah Kontes Miss World 2013 akan membawa preseden yang buruk bagi kehidupan kaum muslimin. Seringkali Indonesia dipandang manjadi “proto type”kehidupan beragama bagi negeri-negeri muslim lainnya. Penyelenggaraan Miss World ini membuat Indonesia terkesan sepakat dengan sudut pandang Barat (luar islam) yang lebih melihat perempuan sebagai objek eksploitasi fisik untuk kepentingan dunia usaha. Padahal di dalam islam kemuliaan seseorang tidak dilihat dari fisiknya melainkan takwanya.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujuraat [49]: 13)

Sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah tidak melihat rupamu dan hartamu, tetapi Dia melihat pada hatimu dan amalanmu. [Hadis Sahih Riwayat Imam Muslim]

Selain itu, ada hadits yang secara langsung melarang pemanfaatan sisi keperempuanan dalam usaha sebagai berikut, Diriwayatkan dari Râfi‘ ibn Rifâ‘ah, ia menuturkan: “Nabi SAW telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan dengan kedua tangannya. Beliau bersabda, “begini (dia kerjakan) dengan jari-jemarinya seperti membuat roti, memintal, atau menenun.” (HR Ahmad).

Berbagai hal terkait Miss World bagi kaum muslimin tidak bisa disederhanakan sebatas pemakaian bikini atau tidak. Tapi lebih dalam dari itu tentang cara pandang terhadap wanita bukan untuk objek alat industri atas nama kecantikan. Islam sudah memposisikan perempuan dalam tempatnya yang mulia sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Keberartiannya di masyarakat pun dinilai karena kemanfaatannya secara nyata di masyarakat. Karena itu wajar kontes Miss World ini ditolak.###

*** Ekha Putri Minangsih Subara adalah Ketua DPD II Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Kabupaten Sumedang