Mantan Menteri Ini Bilang Pengangguran di Indonesia Masih Tinggi

8 May 2018 12:08 WIB
 
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong, Rokhmin Dahuri
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong, Rokhmin Dahuri

SUMEDANG – Jumlah pengangguran terbuka dan setengah menganggur di Indonesia masih tinggi, sekitar 40 juta orang (31,25%) dari total angkatan kerja 128 juta (BPS 2018).

Hal itu dikatakan Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong, Rokhmin Dahuri usai Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-36 Institut Managemen Koperasi Indonesia (IKOPIN) Ke-36 di Graha Suhardani, Kampus IKOPIN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Senin (7/5/2018).

Selain itu sebut dia ada ketimpangan ekonomi antara kelompok miskin dan kaya yang juga dinilainya sangat tinggi. Dalam dekade terakhir, menurut Rokhmin, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya dinikmati oleh 20 persen penduduknya, sedangkan 80% sisanya tidak kebagian kue pertumbuhan ekonomi tersebut.

“Pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan ekonomi itu, ditenggarai merupakan penyebab utan dari semakin marak dan masifnya berbagai macam tindakan kriminal, semua ini berujung pada instabilitas politik, buruknya investasi dan kemudahan berbisnis, yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan rakyat,“ ungkapnya.

Dikatakan dia, sejak tahun 1945, Indonesia terus mengalami perbaikan hampir disemua aspek kehidupan, mulai dari infrastruktur, ekonomi sampai sosial budaya. PDB (Produk Domestik Bruto atau besaran ekonomi) Indonesia pada tahun lalu mencapai 1,4 triliun dolar AS, tersebar ke-16 di dunia (WEF, 2018) namun sudah 73 tahun merdeka, Indonesia masih sebagai negara berpendapatan menengah bawah (Low-middle income country) dengan rata rata pendapatan nasional kotor ( Gross National Income) perkapita 3.604 dolar AS. “Padahal, sebuah negara dikategorikan sebagai negara makmur ( berpendapatan tinggi) bila GNI perkapitanya diatas 12,166 AS,” jelasnya.

Rokhmin Dahuri menerangkan, kapasitas IPTEK bangsa Indonesia pun hingga kini baru berada di kelas-31 Dimana lebih dari 75 persen kebutuhan teknologinya berasal dari impor. Padahal, kata dia suatu bangsa bisa dinobatkan sebagai bangsa yang maju, bila kapasitasnya IPTEK nya mencapai kelas-1 atau lebih dari 75 persen kebutuhan IPTEK nya merupakan hasil karya bangsa sendiri (UNDP,2010).

BACA JUGA  Alun-alun Bandung mulai dipadati bobotoh

Ditambahkan Rokhmin jumlah rakyat miskin pun masih tinggi, sekitar 26,58 juta orang (10,12% total penduduk) berdasarkan pada garis kemiskinan BPS (2017) sebesar Rp 370.910 per orang per bulan. Sedangkan, atas dasar garis kemiskinan Internasional (2 dolar AS/orang/ hari), jumlahnya mencapai 110 juta orang atau 40 perse total penduduk. Lebih mencemaskan, sekitar 30 persen dari total anak Indonesia mengalami Stunting growth ( tubuh pendek). ”Dan 33 persen nya menderita gizi buruk, jika tidak segara diperbaiki status gizi dan kesehatannya, maka fisik mereka akan lemah dan kecerdasannya rendah,“ kata dia. ***

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.