Kenapa Marak Pemerkosaan Terhadap Remaja?

16 September 2016 00:15 WIB
 
0
Ilustrasi
geotimes.co.id
Ilustrasi

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Faktor Pemicu
Mengapa pemerkosaan begitu mudah terjadi di negeri mayoritas muslim ini, termasuk di Sumedang, Bahkan, korbannya juga para muslimah yang sudah berusaha menjaga diri dengan menutup aurat? Pemicu pemerkosaan antara lain:
Pertama, makin jauhnya individu masyarakat dari nilai-nilai agama sehingga tidak takut kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Seorang lelaki yang mencuri kehormatan perempuan, berarti bejat moral. Tidak takut azab Allah SWT. Sebaliknya, seorang perempuan yang tampil merangsang –hingga kerap menjadi korban– dengan membuka aurat, berperilaku menggoda atau sengaja memancing birahi lawan jenis, juga bukan profil individu yang takut kepada Allah SWT. termasuk orang tua yang tidak mampu dalam membekali anak dengan pegangan agama dan dalam mengontrol anak-anaknya,
Kedua, diumbarnya rangsangan-rangsangan seksual di ranah publik yang kian vulgar dan liar. Iklan, film, musik, bacaan dan media massa semakin kental dengan muatan seksualitas tanpa sensor. Semua tahu, hal itu membangkitkan nafsu. Tanyalah pada para pelaku pemerkosaan, mereka umumnya melampiaskan nafsu setelah menonton konten porno. Baik VCD/DVD, rekaman video mesum, bacaan porno, blue film atau ilustrasi dan gambar-gambar porno yang berserakan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik (internet). Siapa yang bertanggung jawab? Negara dengan kewenangannya, seharusnya melarang peredaran konten porno tersebut di ranah publik. Namun, tentu saja negara yang menerapkan sistem sekuler, yakni sistem demokrasi dengan hak asasi manusianya, tak bisa melakukan itu.
Ketiga, yakni diterapkannya sistem demokrasi-sekuler, dimana hak asasi manusia (HAM) ibarat Tuhannya. Dengan dalih HAM, siapapun bebas berbuat dan bertingkah laku. Termasuk, bisnis porno pun tumbuh subur dan tidak boleh dilarang karena bisa dianggap melanggar HAM.
Keempat, makin bebasnya interaksi laki-laki dan perempuan. Saat ini, perempuan semakin biasa beraktivitas di ranah publik dan berinteraksi tanpa batas dengan laki-laki. Sengaja atau tidak, kondisi ini membuka peluang bagi terjadinya rangsangan-rangsangan seksual dengan begitu mudah. Peluang terjadinya pemerkosaan pun semakin terbuka dengan merebaknya pacaran, teman tapi mesra, hubungan tanpa status dan perselingkuhan. Bukankah tak sedikit korban diperkosa pacarnya sendiri!
Kelima, tidak adanya hukuman tegas yang membuat jera pemerkosa. Dalam hukum yang berlaku saat ini, pemerkosaan tak dianggap kriminalitas berat. KUHP pasal 285 tentang Pemerkosaan hanya mengancam pemerkosa dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara. Padahal faktanya tak sedikit yang hanya dikurung beberapa bulan atau tahun, setelah itu bebas berkeliaran dan memperkosa lagi. Naúdzubillahi mindzalik!

Kapitalis Gagal Menjamin Keamanan
Maraknya pemerkosaan membuktikan bahwa negara gagal melindungi kehormatan kaum perempuan. Bukti bahwa hukum buatan manusia yang diterapkan saat ini, mandul dalam menjamin keamanan rakyatnya, khususnya kaum hawa. Para penegak hukum seperti polisi, jaksa dan hakim tidak menjalankan tugasnya dengan baik, disamping sistem perundangan yang lemah dan pasal-pasal yang mudah diselewengkan oleh para penegak hukum dan terdakwa. Pimpinan bangsa tidak menjadikan penegakan hukum dan keamanan warganya sebagai program wajib dan utama.
Kondisi ini tak hanya terjadi di Sumedang khususnya atau di Indonesia umumnya, juga di berbagai belahan dunia yang notabene sama-sama menerapkan sistem sekuler-kapitalis. Di India misalnya, saat ini juga sedang disidangkan kasus pemerkosaan dan penganiayaan brutal yang menimpa seorang mahasiswi hingga menemui ajalnya. Kasus ini memicu kemarahan warga di sana dan dunia internasional.
Ini membuktikan bahwa sistem sekuler-kapitalisme yang diterapkan di hampir seluruh dunia global saat ini telah gagal menjamin keamanan, kehormatan dan kemuliaan perempuan. Sungguh mengerikan, di mana-mana perempuan terancam menjadi objek kejahatan seksual oleh para penjahat kelamin tak berperikemanusiaan. Itulah sebabnya, saatnya mengganti sistem sekuler-kapitalis ini dengan sistem Islam buatan Sang Pencipta, Allah SWT.

Sistem Islam Menjaga Kehormatan Perempuan
Islam mendudukkan perempuan di posisi mulia. Dibuatlah mekanisme untuk melindungi kehormatan mereka, melalui penerapan berbagai sistem kehidupan yang saling terintegrasi dan komprehensif. Bukan sekadar hukum sosial, juga sistem ekonomi, politik, hukum dan sebagainya.
Jika sistem ekonomi Islam diterapkan, perempuan akan terjamin kesejahteraannya sehingga tak perlu berkeliaran di ranah publik demi mencari sesuap nasi. Hal ini mencegahnya dari tindak kejahatan.
Jika sistem pergaulan Islam diterapkan, akan terjaga interaksi dengan lawan jenis bukan mahromnya sehingga peluang dilecehkan juga minim. Apalagi jika ia taat pada syariat dengan selalu menutup aurat dan menjaga pandangannya dari syahwat.
Jika sistem hukum Islam diterapkan, pelaku pelecehan dan kejahatan seksual akan dihukum berat dan dibuat jera. Juga, tercegah masyarakat lain untuk berbuat hal yang sama. Semisal bagi pemerkosa, jika melakukannya tanpa mengancam dengan menggunakan senjata, maka dihukumi layaknya pelaku zina. Jika pelaku sudah menikah dirajam sampai mati dan jika belum menikah dicambuk 100 kali serta diasingkan selama satu tahun. Sedangkan pemerkosaan dengan menggunakan senjata, dihukumi sebagaimana perampok. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya, hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah mereka dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang (keluar daerah). Yang demikian itu, (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33).
Dari ayat di atas, ada empat pilihan hukuman untuk perampok: dibunuh, disalib, dipotong kaki dan tangannya dengan bersilang, diasingkan atau dibuang (penjara). Pengadilan boleh memilih salah satu di antara empat pilihan hukuman di atas, yang dianggap paling sesuai untuk pelaku dan bisa membuat efek jera bagi masyarakat, sehingga bisa terwujud keamanan dan ketenteraman di masyarakat.
Hukum Islam yang tegas seperti inilah yang akan memberi jaminan keamanan. Buktinya, di negara yang masih menerapkan hukum ini meski tidak komprehensif, angka pemerkosaan relatif rendah. Menurut Data Interpol, angka perkosaan di AS 32,05, Jepang 1,78, dan Saudi 0,14 per 100.000 penduduk.
Jelaslah bahwa hukum buatan Allah SWT yang terbaik daripada hukum jahiliyyah buatan manusia. Benarlah firman-Nya: “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al Maa-idah:50]
Untuk itu mari kita tuntut hak berupa jaminan atas keamanan, kemuliaan dan kehormatan kita dengan berjuang bersama-sama demi tegaknya sistem Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Hanya sistem inilah yang akan melindungi harkat dan martabat kaum perempuan. Wallahuálam.(*)

MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR DPD II SUMEDANG