Harapan Antara Sepakbola dan Penguasa

4 July 2018 14:21 WIB
 

SORAK-SORAK suara kemenangan, gemerlap kesunyian suara-suara tangisan kekelahan. Ya memang, suara-suara itu terdengar sangat jelas akhir akhir ini Kabupaten Sumedang pasca pesta demokrasi, katanya. Pasca ini awal perubahan, katanya, Pasca titik bangkit kabupaten ini, katanya juga.
Kalo bicara politik & para ambisi tokoh dalam membangun kabupaten ini, dari dulu sampe sekarang nyanyian sumbangnya masih sama cuma penyanyinya yang beda. Tapi harapan itu terus ada seperti menjaga lilin dikegelapan walaupun kita sebetulnya tau lilin itu pasti padam pada kegelapan.
Saya melihat ambisi ini tidak salah , namun cara dan perilaku yang sering salah. Salah satunya soal kebanggaan kabupaten ini, apa yang kita terus banggakan menjadi rohnya Kabupaten Sumedang. Ditengah budaya, moral,perilaku yang mulai tergerus sedikit demi sedikit, terkikis detik demi detik. Salah satunya yang saya soroti disini adalah Sepakbola, Sepakbola bukan lagi soal pemersatu bangsa, sepakbola bahkan sudah menjadi budaya bahkan menjadikannya sebuah kebanggaan yang harus dibela karena ada marwah,tanggung jawab, dan nama baik dibelakangnya.
Apakah masih kebanggaan itu ada di kabupaten ini? Dengan segala pembangunan yang ada, penguasa yang silih berganti menunjukan taji dan nyali mereka untuk melakukan perubahan . Jangan lupakan ada nama kebanggaan untuk kabupaten ini, PERSES Sumedang yang lahir pada 30 Januari 1950 kini mulai dilupakan, gelora kebersamaan dan kebangkitan di Stadion Ahmad Yani, moment dimana masyrakat dan penguasa saling duduk berdampingan menyaksikan pahlawan-pahlawan yang mimpinya untuk mengharumkan kabupaten ini, itu saja mimpi mereka tidak lebih.
Apakah tidak salah mereka menginginkan pengakuan dan dihargai oleh penguasa? Saya rasa itu adalah sangat masuk akal karena jerit payah mereka kadang tidak dibayar sepeser pun. Penguasa hari ini harus bisa melihat apa yang nampak dan apa yang tidak nampak dikabupaten ini, penguasa hari ini harus mampu menjadi oase di tengah padang pasir jangan sampe hanya sekedar sorak kemenangan itu menjadi sorak kemenangan kepentingan segelintir, tapi jadikan kemenangan itu adalah kemenangan masyarakat sumedang, yang menginginkan perubahan nyata bukan fana.
Termasuk Sepakbola sumedang yang terlihat jalan ditempat , stagnan, karena tidak adanya sinergitas dari semua kalangan , yang hari ini hanya melihat luarnya saja sehingga tidak pernah masuk kedalam situasi dan kondisi Perses Sumedang sekarang dan mungkin menurut saya orang-orang lebih suka mengkritik tanpa solusi apapun yang diberikan, sekali lagi harapan itu bakal ada saya yakin penguasa hari ini bisa merubah itu semua. Wahai penguasa berperilakulah seperti pemain bola “Bermainlah untuk siapapun yang tertera di bagian depan kausmu, dan semua orang akan mengingat siapapun yang tertera bagian belakang kaus itu” Ini bukan soal lagi merayakan kemenangan, tapi ini bagaimana soal memulai darimana, bekerja dengan siapa, apa yang harus dikerjakan, hasil apa yang akan didapat untuk masyarakat. Jadikanlah Kabupaten Sumedang menjadi canvas yang kau pilih untuk kalian wahai penguasa melukis seindah mungkin, untuk masyarakat sumedang. Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya.
Penguasa………..
Penulis,
Rangga Amiruloh Muslim, S.AP
Sumedang 3 Juli 2018. 22.10 WIB

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.