Hajat Lembur Cijatihilir

24 October 2011 21:32 WIB
 
0
1461
Hj. Eny, didaulat warga Cijatihilir naik kuda.photo igun/so

SITURAJA – Penentuan kapan tepat berdirinya Dusun Cijatihilir Desa Jatimekar Kecamatan Situraja, memang menjadi sebuah tanda tanya besar hingga saaat ini, menurut Kepala Desa (Kades) Jatimekar, penentuan berdirinya Desa Jatimekar sejauh ini masih sulit diprediksi.

“Kalau masalah tanggal berdirinya Desa Jatimekar, memang sejauh ini kita masih sedikit kesulitan,” kata  E. Kusnadi Kades Jatimekar usai mengikuti prosesi hajat lembur di Dusun Cijatihilir Desa Jatimekar, Sabtu (22/10).

Dikatakan Kusnadi, dengan terus dipeliharanya hajat lembur di wilayahnya diharapkan akan membangkitkan budaya gotong royong dan kebersamaan, selain itu agenda hajat lembur yang sempat pakum tersebut, ingin kembali disiarkan sehingga menjadi sebuah agenda rutin tahunan.

“Hajat lembur ini memang dulu pernah ada, namun sempat pakum, dan sekarang dibangkitkan kembali, kedepannya ingin acara semacam ini dijadikan kalender tahunan,” ujar Kusnadi.

Menurut Kusnadi, kegiatan hajat lembur yang diselenggarakan di Dusun Cijatihilir tersebut sebagai salahsatu bentuk implementasi Peraturan Bupati Nomor 113 tentang Sumedang Puseur Budaya Sunda.

“Kegiatan hajat lembur juga sebagai bentuk untuk meningkatkan nilai budaya yang sudah ada dan mengimplementasikan peraturan bupati 113 tentang SPBS, mudah-mudahan Desa Jatimekar dapat mendukung program tersebut. Harapan kedepan kita dapat lebih meningkat,” lanjut Kusnadi.

Acara hajat lembur sendiri dimulai dengan arak-arakan kuda renggong, yang ditunggangi calon dari independen Bupati Sumedang asal Kecamatan Situraja, Dra. Ir. Hj. Eni Sumarni, M.Kes.

Kepada sumedangonline, Hj. Eni, mengaku baru kali pertama naik kuda, dikatakannya saat itu dia tidak menyangka jika masyarakat di Desa Jatimekar akan mengangung-agungkannya dan menaikannya ke atas kuda.

“Sama sekali saya tidak tahu kalau saya mau naik kuda, pertama saya benar-benar takut, sampe ka muringkak bulu punduk, tapi setelah sedikit tahu tekniknya, ternyata enak juga, ternyata kita harus dapat seirama dengan gerakan kuda,” kata Hj. Eni.

Kegiatan hajat lembur tersebut dipandang, Hj. Eni, sebagai salahsatu bentuk warisan budaya yang patut dilesatarikan, apalagi kegiatan hajat lembur sudah mengakar di rakyat Sumedang. Bahkan jika dikelola dengan baik akan menjadi nilai jual terhadap kunjungan wisatawan ke Sumedang.

“Apalagi nanti dengan akan berdirinya tol Cisumdawu dan waduk Jatigede, apabila kita tidak mengoptimalkan potensi budaya yang sudah ada, kalau tidak kita akan menjadi penonton,” ujar Hj. Eni.(igun gunawan/fitriyani)