Guru Harus Kreatif Buat LKS Sendiri

18 January 2012 07:15 WIB
 
1
Sejumlah Orangtua Siswa SDN Situraja, mempersoalkan tentang adanya penjualan buku LKS di sekolah ini.
Sejumlah Orangtua Siswa SDN Situraja, mempersoalkan tentang adanya penjualan buku LKS di sekolah ini.
SDN Situraja
Sejumlah Orangtua Siswa SDN Situraja, mempersoalkan tentang adanya penjualan buku LKS di sekolah ini.

DISDIK – Masih adanya keluhan dari orangtua siswa berkaitan dengan keberatan masalah LKS, yang diperjual belikan sejumlah sekolah di Kabupaten Sumedang dengan berbagai dalih, seperti diberitakan sebelumnya, membuat Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Unep Hidayat, angkat bicara.
Ia menilai jika buku pelajaran LKS dipandang perlu oleh guru maupun kepala sekolah pihak Disdik mempersilakan, tetapi dengan catatan tidak membeli produk dari luar, Unep, bahkan akan memberikan apresiasi jika LKS itu dibuat oleh guru dan digandakan oleh pihak sekolah dengan anggaran dari Dana BOS.
”LKS itu mestinya, bukan membeli buku yang produk luar, saya lebih menghargai LKS itu adalah produk Guru, ajukan saja ke Kepala Sekolah untuk digandakan, yang gurunya bagaimana ? tidak usah menjual LKS guru itu, tinggal minta aja ke kepala Sekolah dari Dana BOS, sebagai re-ward-nya, dia punya hak kok, karena anggaran di sekolah harus berbasis itu,”ungkap Unep Hidayat, Kabid Dikdas pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang di ruang kerjanya, Selasa (17/1).
Dikatakan Unep, untuk berbagai kebutuhan buku di sekolah terutama untuk siswa-siswa yang tidak mampu, tinggal dibelikan dari dana BSM untuk pembelian buku, “buku LKS dan buku-buku lainnya, kepada siswa miskin seharusnya dibebaskan beli,” imbuhnya.
Kabid Dikdas itu bahkan berkali-kali menyebutkan guru seharusnya kreatif dalam membuat LKS sendiri, apalagi saat ini guru sudah berbasis IT,”apalagi SMP Negeri sudah diberikan Pemda computer sudah online tinggal sumber dari internet   mereka bisa mempoto fotocopy, gandakan flasdisk, gurunya yang membuat (menyusun) dikasih honor dalam pembuatan LKS, atas pertimbangan sesuai dengan rabat hasil penjualan LKS orang lain di sekolah kit,” lanjutnya.
Unep pun tidak menampik jika ada sisi keuntungan bagi guru dari penjulan buku LKS, sementara untuk produk-produk lain yang tidak ada di luar seperti kaos olahraga dan batik sebagai identitas sekolah, sekolah dapat menyediakannya sendiri.
“Hanya saja jangan sampai membebani siswa miskin,” pungkasnya.(Pengirim: Iwan Rahmat Editor:Igun Gunawan)

1 COMMENT