Gaya Mengkritik, Ala Anak Vespa

2 May 2012 20:38 WIB
 
0
SERVICE – Adam berekspresi di depan motornya yang mogok. Menurut Kohan mereka lebih baik dipandang gembel, daripada genkster
SERVICE – Adam berekspresi di depan motornya yang mogok. Menurut Kohan mereka lebih baik dipandang gembel, daripada genkster
SERVICE – Adam berekspresi di depan motornya yang mogok. Menurut Kohan mereka lebih baik dipandang gembel, daripada genkster

WADO – Mengkritisi keadaan dan lingkungan di sekitarnya terutama sesuatu yang dianggap kurang baik dimata masyarakat, tidak harus diungkapkan dengan lontaran hujatan-hutan dalam sebuah aksi unjukrasa. Gambaran, keprihatinan empat pemuda yang tergabung dalam Extreme Scooter Indovidual (ESI), bisa menggambarkan jika kondisi lingkungannya saat ini (baca:Sumedang), sudah seperti yang mereka ekspresikan dalam rangkaian motor vespa heubeul.
Motor vespa 125 itu, dimodifikasi dengan menambahkan satu gandengan dipinggirnya. Uniknya gandengan tersebut mereka buat dari besi bekas ranjang kamar. Selain itu, atap yang melindungi mereka dari sengatan matahari dan hujan, terbuat dari baligo dan spanduk. Dibeberapa bagian mereka gantungkan bekas botol mineral, bahkan beberapa tihangnya pun dibuat dari bambu, sepintas masyarakat yang melihat memandang aksi mereka seperti rumah gembel yang berjalan di muka umum, memprotes keadaan.
“Aksi mereka menurut saya sebagai bentuk pola mengkritisi terhadap apa yang mereka rasakan di sekitarnya. Gembel, gelandangan, sekarang kan bukan hal yang aneh, disudut-sudut kota kerap terlihat, mereka menjadi bagian yang ter-marginal-kan oleh keadaan. Di Sumedang ‘gembel-gembel’ itu juga ada, mereka meminta, bahkan tega mencaplok hak orang lain,” ujar Kosam, anggota MPC Pemuda Pancasila Sumedang, dimintai komentarnya, Selasa (1/5).
Salahseorang anggota ESI, Adam, menyebutkan jika aksi gembel-gembelan di muka umum itu sebagai bentuk kreasi seni dan curahan perasaan mereka. “Ini memang kreatifitas kami, kami memandangnya ini sebagai sebuah seni,” ungkap remaja 22 tahun itu.
Ketika ditemui Sumeks kemarin, keempat remaja itu yakni Kohan (17), Kadu (22) dan Kiki (17) dan Adam, baru saja pulang dari Tasikmalaya seusai mengikuti sebuah kegiatan kelompok vespa. Perjalanan ke Tasikmalaya dari kediaman mereka di Kecamatan Rancakalong, ditempuh dalam tempoh 24 jam.
“Makanya jangan anggap kami suka ugal-ugalan. Siapa yang mau balapan dengan kami, paling juga delman,” tambah Kohan menimpali.
Hal menarik dari perjalanan mereka ke Tasikmalaya, adalah bagaimana mereka menjalin komunikasi dalam berorganisasi di internal ESI. Menurut Kohan, di kelompoknya tidak ada perbedaan, terkadang mereka pun berbagi tugas, seperti dalam perjalanan pulang kemarin. Mereka terpaksa berhenti di betulan Sukamenak, karena motor yang ditumpanginya mendadak ngadat.
“Jika sudah begini, kami semua harus bisa melakukan perbaikan sendiri. Semuanya hampir bisa nyerpis vespa,” lanjut Kohan.
Kebersamaan mereka pun diuji ketika mereka harus berhadapan dengan jalan yang menanjak, tiga orang diantaranya terpaksa harus turun mendorong, seperti saat perjalan mereka berangkat ke Tasikmalaya memasuki tanjakan Cae di Desa Padasuka, Kecamatan Wado.
“Ya, kalau nemu tanjakan terpaksa lah, kami berhenti. Kemudian yang ada dikendaraan cuman seorang, lainnya mendorong, yang jelas ini kami rasakan asyik, dan kebersamaan kami betul-betul terasa,” ungkap Kohan.
Lantas dengan perjalanan teramat jauh itu, mereka nginap makan di mana. Menjawab pertanyaan itu secara kompak ke-empat remaja tanggung itu, menyebutkan mereka menginap diperjalan, tetapi jika sampai pada lokasi komunitas vespa lainnya, mereka turut bergabung dengan komunitas itu.
“Kalau ke Tasik itu terbilang waktunya pendek, kita pernah ke Cilacap dengan mengendarai vespa. Perjalanan di tempuh dua hari dua malam. Masalah konsumsi, dan tidur, kita bawa bekal sendiri, tapi terkadang ada yang ngasih di jalan, mungkin kasihan melihat kami seperti gembel. Tapi kebanyakan, kami menginap di komunitas vespa setempat,” tambah Kadu.
Bahan bakar selama perjalanan ke Tasik disebutkan Kadu, mereka merogoh kocek Rp 100 ribu pulang pergi, biaya sebesar itu mereka tanggung secara swadaya dalam komunitasnya.
Ditanya tanggapan mereka terhadap keberadaan genk motor, serempak mereka menjawab mereka tidak ada persamaan dengan genk motor. Bahkan menurut pandangan mereka, genk motor kelompoknya bersifat anarkis, sementara ESI justru cinta damai.(ign)

PROMO CONTENT
loading...