Ermi : Tidak Ada Istilah Pilkades PAW ‘Dua Putaran’

16 October 2016 10:56 WIB
 
1
Ermi Triaji saat berkunjung ke Desa Mulyamekar Kecamatan Tanjungkerta, Kamis (13/10).
Mamat Munandar
Ermi Triaji saat berkunjung ke Desa Mulyamekar Kecamatan Tanjungkerta, Kamis (13/10).

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

SUMEDANGONLINE: Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Sumedang, Ermi Triaji, menegaskan tidak ada istilah ‘dua putaran’ dalam pemilihan kepala desa karena Pergantian Antar Waktu (PAW). Hal tersebut ia sampaikan dalam kunjungannya bersama ‘rengrengan’ Komisi A ke Desa Mulyamekar Kecamatan Tanjungkerta, Kamis (13/10/2016).

Seperti diketahui bersama, kepala desa Mulyamekar terpilih pada Pilkades serentak tahun 2015 berhalangan tetap karena telah meninggal dunia.

“Pilkades PAW ini diadakan untuk mengisi kekosongan kepala desa yg berhalangan tetap. Karena sekarang Pilkades dilaksanakan serentak dan tidak boleh dilaksanakan sendiri-sendiri, maka jika ada desa yang kepala desanya berhalangan tetap seperti meninggal dunia, mengundurkan diri dan diberhentikan. Untuk mengisi kekosongan tersebut maka ‘pintu’ Pilkades PAW ini solusinya,” ujar Ermi dihadapan panitia Pilkades PAW desa Mulyamekar yang juga dihadiri oleh pejabat desa dan para ketua RW.

Kata Ermi, pilkades PAW ini mekanismenya melalui Musyawarah Desa yg diselenggarakan oleh BPD yang difasilitasi Pemerintah Desa. Musyawarah desa ini diikutti oleh BPD, perangkat desa dan tokoh masyarakat berbasis perwakilan RW. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) membentuk panitia pemilihan untuk melaksanakan teknis pemilihan.

“Kepala desa yang dipilih secara langsung oleh masyarakat atau melalui proses musyawarah desa (PAW) ini hasilnya sama dan setara di mata hukum perundangan . Tugas, fungsi dan kewenangannya sama saja dengan Pilkades langsung,” tuturnya.

Ermi menambahkan, semua hal ihwal persyaratan, masa pendaftaran sama dengan Pilkades langsung. Hanya proses memilihnya yang beda karena tidak diikuti seluruh warga desa.

Ia juga menekankan kepada panitia supaya berpegang teguh pada aturan yang sudah ada. Jika ada multitafsir atau hal yang tidak jelas dalam peraturan daerah, panitia diminta berkonsultasi dengan camat atau BPMDP jangan memutuskan sendiri.

Selain itu, katanya, hal-hal teknis yang belum diatur dalam perda bisa dicantumkan dalam peraturan Desa tentang pilkades PAW ini. Salah satu hal yang belum diatur dalam perda maupun perbup adalah tentang teknis seleksi manakala ada calon yang lebih dari 3 orang.

“Nah ini yang sempat kita kritisi dari pelaksanaan pilkades PAW sebelumnya. Perda mensyaratkan dalam pilkades PAW ini minimal 2 calon dan maksimal 3 calon. Kalau ada 4 atau 5 calon misalkan, ini harus ada seleksi supaya tetep maksimalnya 3 calon. Untuk menyeleksinya sdh menjadi tugas panitia. Sehingga dalam musyawarah desa (musdes) nanti ‘disuguhkan’ tiga calon,” ujarnya.

“Di beberapa PAW yang sudah dilaksanakan, ada yang ‘proses seleksinya’ diserahkan pada peserta musdes via vooting, tidak dilakukan oleh panitia. Sehingga ada kesan putaran 1 untuk menetapkan 3 orang calon yg berhak dipilih dan putaran 2 untuk memilih kepala desa. Itu salah! Proses dari Balon menjadi Calon itu masih tanggung jawab panitia,” tambah Ermi.

Untuk itu ia berharap, panitia bisa berperan aktif dalam penyeleksian Bakal Calon Pilkades PAW desa Mulyamekar. Mengenai teknisnya Ermi menyarankan untuk membuat Peraturan Desa yang mengatur teknis dalam tatacara pencalonan kepala desa PAW. Ia juga meminta seluruh stake holder tiap tingkatan ikut aktif mensosialisasikan pilkades PAW ini kepada masyarakat.

“Ini hal baru dalam pemilihan kepala desa pasca diberlakukannya UU nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Memilih kepala desa dengan pemilih yang terbatas hanya BPD, Perangkat Desa dan beberapa tokoh masyarakat. Masyarakat harus tahu proses ini. Jangan sampai nanti setelah terpilih kepala desa hasil PAW ada celetukan, teuing teu apal ka kuwu da teu rumasa milih. Nah hal itu harus dihindari,” harap Ermi.

Desa Mulyamekar ini katanya merupakan Pilkades PAW ke 6 yang ada di Kabupaten Sumedang.

Tentunya, kata pria yang juga pernah jadi kepala desa termuda ini, mengingatkan semoga semua pihak bisa belajar dari pengalaman Pilkades PAW yang sudah dilakukan sebelumnya di desa lain di Kabupaten Sumedang.

1 COMMENT