Eni Diberi Mandat Ibu Pelestari Budaya Sunda di Sumedang

26 March 2012 18:46 WIB
 
3
1040
Eni dengan gembira mengangkat wayang srikandi, usai dinobatkan mendapatkan mandat Ibu Pelesatari Budaya Sunda di Sumedang
Eni dengan gembira mengangkat wayang srikandi, usai dinobatkan mendapatkan mandat Ibu Pelesatari Budaya Sunda di Sumedang
Eni dengan gembira mengangkat wayang srikandi, usai dinobatkan mendapatkan mandat Ibu Pelesatari Budaya Sunda di Sumedang

GANEAS – Suara gamelan terdengar sayup sampai begitu Sumeks memasuki kawasan Dusun Nagrak, Desa Cikoneng Kulon, Kecamatan Ganeas. Menuju desa yang baru 3 bulan lalu dimekarkan itu, kiri kanan jalan terpasang umbul-umbul, laiknya ada penyambutan tamu agung.

Dari mulai depan balai desa puluhan motor dan mobil terpakir, suasana makin tampak meriah ketika coba menuruni sebuah tempat dipinggir pesawahan, di depan sebuah bangunan radio komunitas Bayuraga. Ada sedikitnya 3 titik yang dijadikan titik masa, di bawah tenda dan panggung kehormat, serta dalam bangunan rumah yang dijadikan tempat pengobatan tradisional.

Berbagai kesenian tradisional dipentaskan, mulai tari srimpi, gondang, jaipongan, bobodoran. Meski sangat disayangkan dari mulai nayaga dan pelaku lainnya minim generasi muda. “Karena itulah kami mulai dari sekarang ingin membangun dan meregenerasi kesenian yang ada di Kecamatan Ganeas. Apalagi potensi ke arah sana, sangat berpeluang, karena banyak diantara kami yang jebolan dari Sonasoni. Jadi kita memanfaatkan potensi, tapi kan yang penting itu bukan bagaimana menampilkan tapi bagaimana meregenerasi, untuk saya. Karena sekarang hampir punah,” tutur Asep Surahmat, Ir, Ketua Panitia Penyelenggara kegiatan kepada Sumeks, Sabtu (24/03).

Menurut Asep, melestarikan budaya tidak hanya dalam kesenian belaka, tapi dari seluruh aspek kehidupan aktifitas manusia yang menjadikan habbit untuk nilai-nilai positif. “Seperti ngarambet (penyiangan sawah), macul (mencangkul) itu merupakan budaya, itu kan nilai positif, untuk yang negatif saya tidak sebut budaya, meskipun itu bisa disebut budaya negatif. Tapi kita konotasinya positif ke depan,” imbuhnya.

Acara yang mengambil tema Gebyar Budaya Radio Bayuraga itu. Hj. Dr. Ir. Eni Sumarni MKes, mendapatkan mandat sebagai ibu pelestari budaya Sunda di Sumedang, ia mendapat wayang sri kandi dari ketua penyelenggara.

“Beurat nyuhun, beurat nanggung, beurat narimakeunana. Namun, karena ini sudah menjadi kewajiban kita bersama, yang harus melestarikan budaya Sunda. Maka dimulai dari sekarang ke depan, kita para pelestari budaya Sunda yang di dukung oleh masyarakat Sumedang. Kita mulai mendengungkan, dan memulai lagi memakai adat istiadat budaya Sunda, yang nilai filosofisnya sangat tinggi,” ujar bakal calon bupati Sumedang dari jalur perseorangan itu.

Salahsat filosofis budaya Sunda yang sangat tinggi itu, yakni, silih asah; silih asih; silih asuh; silih wangikeun,  jika itu dapat diterapkan di Sumedang, menurut Eni, ia yakin dapat memajukan masyarakat di Kabupaten Sumedang ke depan.

“Jika masyarakat sudah silih asah, silih asih, silih asuh, silih wangikeun, maka masyarakat yang baldatun thoyabatun wa robbun ghofur akan diraih masyarakat Sumedang,” tandasnya.

Ia juga menekankan tidak hanya kesenian belaka sebagai ciri Ki Sunda, tetapi lain dari itu, menurutnya, adalan etika moral budaya. “Sebagian dari budaya itu kan unsur seni, tetapi yang lebih utama adalah etika moral budaya, dimana di dalamnya ada tata titi, adat istiadat, budi pekerti, itulah yang harus bisa mencerminkan bahwa urang Sumedang itu orang Sunda yang berbudaya, kita kan memiliki ke arifan lokal, itu dapat menjadi tolok ukur maju mundur suatu masyarakat,” ungkapnya.

Lain dari itu, Eni pun kembali menegaskan bahwa orang sunda itu harus Nyantri, Nyakola dan Nyunda. Orang sunda nyantri memiliki filosofis dalam kesehariannya mencerminkan insan yang religius. Dimana ia, menurut Eni, meyakini dalam kesehariannya itu, segala pola tindak dan prilakunya diawasi oleh Allah SWT. “Kalau sifat itu sudah masuk dalam masyarakat Sunda, kita tidak akan dapat mengambil hak orang lain,” jelasnya.

Berikutnya, menurut Eni, orang sunda harus nyakola, dalam artian bukan dari pendidikan tapi ilmunya mampu miliah mana hak orang lain dan pribadinya. Terakhir, orang Sunda kudu Nyunda, dimana orang sunda kudu melaksanakan dalam kehidupan sehari-harinya menggunakan moral budaya orang sunda.(ign)

3 COMMENTS

  1. budaya itu apa ? Kebudayaan itu apa ? Mengapa dan untuk apa Smd puseur budaya Smd ? Bagaimana cara nya untuk mencapai untuk apa itu ? ,,, abstrak di kongkritkan ,, mulai dari falsafah sunda ,, nilai (value) ,, adat , norma (norm) ,, kebiasaan (habits) sampai tatacara (ways) ,,, bagaimana mencapai tujuan tsb ya dg “strategi kebudayaan” / cultrure strategy ! ,,, tdk instan dan semudah ninyuh indomei gebrus ,,, he he