Curhat Hutang Malah Dikadalin Dukun

23 January 2013 13:40 WIB
 
0
1018

DARMARAJA Dua pelaku penipuan penggadaan uang dibekuk Mapolsek Darmaraja, yakni ES alias si Belo warga Dusun Cibarengkok, Desa Darmaraja, Kecamatan Darmaraja, dan IRI alias Haji warga Desa Cilampuyang, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Keduanya diduga telah melakukan aksi penipuan dan berhasil memperdayai, Agus Suwandono bin Sagimun warga Komplek Wismamas, Blok C1 No. 22 RT 03 RW 10, Kelurahan Cinangka, Kota Depok, hingga korban kehilangan uang hasil menggade mobilnya senilai Rp 52.900.000.

Kejadian bermula saat pertemuan korban dengan orangtua pelaku, Sap. Saat itu korban mengadu, jika dirinya tengah kelimpungan mencari uang untuk membayar hutang.

“Pelaku dan korban bertemu pada 27 Desember 2012 lalu, setelah mendapat keluhan dari korban. Orangtua korban langsung memanggil anaknya si Belo, kemudian menceritakan jika korban tengah dililit hutang dan meminta mencari orang pintar yang dapat memanggil uang ghaib,” kata Kapolres Sumedang Ajun

Komisaris Besar, Eka Satria Bhakti S.I.K, melalui Kapolsek Darmaraja, Ajun Komisaris, H Suparman,  Senin (21/1).

Setelah mendapat itu, lanjut Kapolsek, si Belo mengontek Haji dalam percakapannya Haji menyebutkan jika dirinya pernah berhasil memanggil uang ghaib untuk orang Cianjur.

Namun, untuk proses ritual pemanggilan uang ghaib tersebut kedua pelaku meminta uang untuk keperluan ritual. Korban pun langsung menyetujui dan memberikan uang senilai Rp 30 juta. Pelaku lantas pergi ke Tanjungsari untuk membeli pernak-pernik ritual.

Di hadapan Kapolsek Darmaraja, Pelaku penipuan dan penggandaan uang melakukan reka ulang ritual di Mapolsek Darmaraja, Senin (21/1).
Di hadapan Kapolsek Darmaraja, Pelaku penipuan dan penggandaan uang melakukan reka ulang ritual di Mapolsek Darmaraja, Senin (21/1).

“Tapi pada hari yang sama itu pelaku justru datang lagi ke korban dan meminta uang tambahan karena untuk keperluan membeli minyak. Karena harga minyak yang semula ditaksir Rp 30 juta naik menjadi Rp 48 juta, korban pun memberikan uang yang diminta sebanyak 21,4 juta. Uang tersebut digunakan untuk membayar sisa dan transport,” lanjut Kapolsek..

Sarat lain, sebut Kapolsek, korban harus menyiapkan dua kalapa muda, satu sisir pisang raja. Sementara si Belo menyiapkan teh gelas, telor, bunga dan buah-buahan sebanyak 7 rupa, serta 7 batang rokok berbagai merek.

Lanjut Kapolsek, korban dan Pelaku pernah melakukan ritual malam harinya yang dihadiri korban dan istri mudanya, Sap, dan si kalong. Sementara Haji berada di ruangan kosong. Pada saat itu korban, diperlihatkan setumpukan uang yang disebutkan pelaku berjumlah Rp 1,5 miliar. Korban pun diusurh untuk mengambil 3 lembar uang untuk dicek asli atau tidaknya, tetapi uang itu harus dikembalikan ke tempatnya karena belum sempurna. Pelaku mengaku, pihaknya harus menyempurnakan itu.

“Malam hari besoknya, mereka kembali melakukan ritual namun gagal karena alasannya istri korban kencing. Disitu korban mulai curiga, kemudian segera melaporkan kejadian itu ke Polisi. Kami kemudian mengatur strategi penangkapan, dan menyuruh korban untuk meminta ritual ulang yang ketiga. Ritual pun dilakukan, dan berkat kerjasama dengan pihak kami keduanya berhasil kami ringkus,” tandasnya.

Sementara itu, pelaku mengaku jika uang Rp 52.900.000 dipergunakan untuk membeli minyak laksadaru senilai Rp 17.500.000 dan buhur seharga Rp 2 juta, serta Rp 10.400.000 untuk kebutuhan transportasi ke Majalengka, Kadipaten, dan Cirebon untuk membeli peralatan ritual. Sementara sisa uang Rp 23 juta, dibagi dua pelaku.

Korban meminta pelaku dapat mengembalikan seluruh uangnya, karena uang yang digunakan untuk ritual merupakan uang hasil gadai mobilnya. Atas kejadian itu Kapolsek, menjerat pelaku dengan Pasal 378 dan 374 KUH Pidana tentang Penipuan dan Penggelapan dengan hukuman maksimal 4 tahun penjara. (ign)