BISAKAH MASYARAKAT SUMEDANG BIKIN LISTRIK SENDIRI ?

24 April 2010 03:19 WIB
 
7

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Ya…, Kenapa tidak….!

Adalah sebuah pertanyaan yang terlontar tatkala sering terjadi pemadaman listrik oleh PLN, akibat beban / kapasitas listrik tidak mencukupi kebutuhan pengguna,

Bila kejadian tersebut hampir semua orang menyalahkan pihak PLN terhadap pelayanannya yang tidak sesuai dengan beban biaya yang dibayar oleh masyarakat, namun jarang sekali yang berpikir bagaimana cara menghasilkan listrik itu ?

Dengan sedikit merubah ‘mind set’  marilah kita berpikir bagaimana mendapatkan listrik dengan murah dan manfaat untuk masyarakat, sehingga tidak terlalu ketergantungan kepada PLN.

Gambar di sebelah ini merupakan ilustrasi dari jawaban tersebut di atas.  Adalah merupakan sebuah rencana Pembangkit Listrik Tenaga Air – Skala Kecil atau sering disebut sebagai Mini / Micro Hydro Power Plant, dengan kapasitas (install capacity) di bawah 10 MW.

Sistem Pembangkit listrik tersebut biasa disebut sebagai run-of-the-river system, karena energy listrik tersebut diperoleh dengan mengalirkan air dari sungai, tanpa harus membuat bendungan, melainkan hanya mengambil air dari intake sugai di bagian hulu.

Air dari intake tersebut selanjutnya ditampung dalam suatu bak air (canal chamber) yang fungsinya sekaligus untuk mengendapkan sediment / lumpur dan pasir yang terbawa air.

Kemudian air dari bak penampungan tersebut dialirkan melalui pipa (penstock) ke rumah pembangkit (powerhouse) untuk menggerakan Turbine dan Generator, sehingga akhirnya akan diperoleh Listrik.

Untuk mendapatkan daya listrik (Power) ditentukan oleh 2 faktor, yaitu Beda Elevasi (H) dan Debit Air (Q) yang dialirkan melaui pipa Penstock.

Cara menghitung daya listrik tsb. secara sederhana dapat dihitung dengan formula sbb:

Sebagai contohnya, marilah kita rencanakan sbb:

Yayasan Sumedang Makalangan (YSM) rencananya akan membuat Micro Hydropower Plant, yang pengambilan airnya (intake) diambil dari sungai “Cipeles” (di sekitar Cadas Pangeran), dengan menggunakan Pipa Besi Æ 12 inch = 30 cm , dimana turbine-nya akan diletakan di bagian bawah dengan beda elevasi 50 m, dan kecepatan air dalam pipa tsb direncanakan : 0,50 m/dt.

Dari data tersebut di atas dapat diperoleh hitungan daya listrik (install capacity) sbb:

Sesuai dengan cara perhitungan tersebut di atas, maka akan diperoleh daya listrik sekitar 10 KW, bila masing-masing rumah di sekitar itu diberikan listrik sebesar 250 watt, maka akan cukup untuk penerangan sebanyak 40 rumah.

Ilustrasi perhitungan tersebut, tentunya dapat dikembangkan sesuai dengan rencana dan keadaan lokasinya, sehingga dengan demikian untuk memperoleh listrik dengan sekala besar sekalipun tentunya tidak jauh berbeda dalam cara perhitungannya.

Dari contoh perhitungan tersebut di atas, menurut kami tidak menutup kemungkinan bila Pemerintah Daerah Sumedang mau bekerja sama dengan Investor tentunya dapat membangun Pembangkit Listrik yang lebih besar hingga mencapai 10 MW (cukup untuk beban sebanyak 20 ribu rumah), sehingga dengan demikian nantinya Pemerintah Sumedang akan memiliki PLTA (Mini Hydro), milik Perusahaan Listrik Daerah (PLD-Sumedang).

Hal itu semua tentunya tergantung kepada Pemimpin Daerah, mau / tidaknya mencari Investor tsb. Sehingga dengan demikian Sungai Cipeles tsb. nantinya akan menghasilkan PAD untuk Kab.Sumedang tidak seperti selama ini debit air yang melimpah dibiarkan mubazir begitu saja, padahal itu adalah memiliki Potential Energy yang tinggi.

Semoga hal ini dapat menjadikan renungan untuk Masyarakat Sumedang dan Pemimpinnya…!

Dubai, 22 April 2010

Salam Sono ti Urang Wado.

(Ir.H.Surahman, M.Tech,M.Eng.MBA)

7 COMMENTS

  1. Tks buat Ir.Iman Riswandi,MT (dari Depnaker – Jawa Barat),
    Final Design dan RAB sedang dalam proses finalisasi, cuman masalahnya skg “yang punya” daerah (Pemerintah / DPRD) sendiri nampaknya masih tidak / belum memberikan tanggapan, kemungkinannya tidak tertarik karena berurusan dengan permodalan, padahal kalau mau mencari Investor sebenarnya banyak..!
    Nampaknya akan dicarikan donatur dari LN, tapi nanti jangan-jangan perizinan susah pula…?
    (selama masih bisa dipersulit…, kenapa dipermudah…? biasanya begitu kebiasaan di Pemerintah RI).

  2. Sepertinya Pemerintah Daerah menunggu waduk Jatigede saja, biar gak pusing mikirin anggaran, kalo ada donatur kadang ribet juga , sekarang banyak orang yang agak susah diberi bantuan berupa sarana fisik.

  3. @ Kang Imron. ” Wah…, klu memang Pemda Sumedang spt itu mah…, kapan mau majunya dunk…?
    kadang aneh juga ya…kalau ada yg mau memberikan bantuan malah ditolak…? dikerjakan sendiri ngak bisa dan ngak punya duit dibantu ngak mau terima…, atau mungkin maunya dibantu dananya doang biar bisa dibagi-bagi duitnya…?

    Waduk Jatigede mah..nantinya akan dikelola oleh “Otorita Jatigede” bukan oleh Pemda Sumedang Kang…!
    Kab.Sumedang mah hanya jadi Objek Pelengkap Penderita saja, yang diuntungkan adalah : Indramayu, Cirebon, Majalengka dan sekitarnya. Untuk Pembangkit Listriknya nanti akan dikelola oleh PLN bukan jadi milik Pemda Smd.

  4. ass,wr,wb saya mau sharing ilmu yg belum punya listrik dan terpencil. dana yg dihabiskan berkisar 5.4jt tidak tergantung pada sungai,matahari.angin ataupun bbm alat2nya pun tersedia bebas diindonesia meliputi +generator 7500watt tanpa diesel+kawat mail+magnet bekas speaker 18x ukuran sama+transistor d313 2x+kiprok+aki mobil untuk starter+resistor 1k5 3x+trafo 10ampere+potensio+roda sepeda motor bekas tapi yg bintang dan terbuat dari aluminium+meja kayu/besi rangka. semua bahan yg saya cantumkan tidak harus baru. inti semua diatas adalah generator digerakkan oleh roda bermagnet dan bisa diatur kecepatannya dan watt yg diperoleh dirumah impian saya meliputi kulkas 2,tv21″ 1,lampu neon 13x,mesin cuci.pc dan laptop. kelebihan alat ini tidak bising dan perawatan saya tiap bulannya hanya ngasih oli disetiap penggerak. bila kelebihan beban roda melambat.

  5. Ah…abdi mah pusing ku sikap pamrentah teh. kapungkur oge pembangkit listrik kitu tos ngadamel di Buahdua. dugi ka amburadul kitu, anget2 e’e ayam.