Belum Diperbaiki Sejak 1972, Rumah Tinggal Maman Ambruk

9 March 2018 13:07 WIB
 

SUMEDANGONLINE.COM, SUMEDANG: Rumah tinggal yang berdiri di tanah wakaf area masjid Alfalah (Masjid Besar Tegalkalong) ambruk pada Rabu (6/3/2018) lalu. Rumah yang dibangun sejak 1972 itu, terletak di RT 1 RW 7 kelurahan Talun kecamatan Sumedang Utara, akhirnya rata dengan tanah.

Beruntung saat kejadian, keluarga Maman Karmana yang menghuni rumah tersebut sejak 1972 telah diungsikan. Karena sebelumya tanda-tanda rumah tersebut akan ambruk sudah terlihat. ”Penyebab ambruknya rumah tersebut, memang karena sudah lapuk sering kehujanan. Bukan tidak mau ada pemeliharaan atau renovasi, tapi saya tidak memliki dana untuk itu,” kata Maman Karmana saat dihubungi SUMEDANG ONLINE.

Dirinya, sebenarnya sudah berusaha untuk memperbaiki rumah dengan semampunya. Sayangnya, karena kelapukan bahan bangunan yang sejak 1972 belum pernah direnovasi, sehingga rumah itu akhirnya ambruk saat warga mencoba mengevakuasi genting. “Rusaknya sebenarnya sudah lama, saya cuman bisa menanggulangi seadanya,” kata Maman.

Dia bercerita pindah ke rumah wakaf, semenjak ibunya masih hidup. Setelah meninggal dia dan tiga anaknya, lantas meneruskan tinggal di rumah tanah wakaf tersebut. Maman mengaku terpaksa tinggal di rumah itu lantaran tidak memiliki lagi tempat lain untuk tinggal. ”Saya punya anak tiga, Satu laki laki dan dua perempuan. Kalau saya punya tanah lagi di luar sabata dua bata mah, ingin dibangun untuk tempat tinggal,” selorohnya.

Kasie Pemerintahan, Ketentraman dan Ketertiban kelurahan Talun Budi Permana, membenarkan rumah singgah Maman Rukmana ambruk. Diakui Budi, dirinya sudah berusaha untuk mencarikan solusi dan bantuan yang akan diberikan pada si penghuni rumah namun sejauh ini tidak bisa, salahsatu alasannya karena tinggal di atas tanah wakaf. Sehingga pihaknya harus menunggu putusan dari DKM Maupun Ketua KUA Sumedang Utara.

BACA JUGA  Rumah Bu Dosen Terbakar, Kerugian Hingga Ratusan Juta

”Kami dari kelurahan, karena ini adalah warga kami, sudah menjadi kewajiban. Sudah berupaya kita menembus ke beberapa pihak untuk mendapatkan bantuan. Namun dalam posisi ini ada beberapa kendala di lapangan. Salahsatunya, status lahan tanah wakaf masjid Alfalah Tegalkalong. Sehingga kami harus berkoordinasi dulu dengan dengan DKM, Nadir, apakah diperbolehkan tinggal di sini, atau bagaimana. Itu yang sedang kami lakukan, memang tidak sekaligus, untuk sementara saya lihat sudah mulai ada bantuan dari donatur dengan mengirimkan bantuan kayu dan bambu,” kata Budi. ***

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.