Bau Amis di Puskesmas Darmaraja

5 February 2012 21:30 WIB
 
2
Tak Ada Ambulans terpaksa mobil bak terbuka pun dipake. Dok.
Tak Ada Ambulans terpaksa mobil bak terbuka pun dipake. Dok.
Tak Ada Ambulans terpaksa mobil bak terbuka pun dipake. Dok.

Darmaraja – Sedikitnya 2 kilogram kopi digunakan pihak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Darmaraja untuk menghilangkan bau amis bekas darah dari tragedi bus maut Maju Jaya, seluruh korban baik meninggal dunia, maupun luka ringan dan berat sebelum dirujuk ke RSUD Sumedang terlebih dahulu transit di Puskesmas Kecamatan Darmaraja. Akibatnya meski telah 3 hari berlalu namun bau amis masih tetap terasa.
“Sampai hari ini pun bau amis akibat darah yang tercecer dimana-mana waktu kejadian bus maut Maju Jaya itu masih terasa, terpaksa kita membeli kopi adalah 2 kilogram, agar bau amis tidak terlalu menyengat,” papar Acid Sobana SKm MSi., Kepala Puskesmas (Ka. Pus)Kecamatan Darmaraja ditemui Sumeks di Kantornya, Jumat (3/2).
Dikatakan Ka. Pus untuk bersih-bersih darah dilakukan office boy dibantu staff Puskesmas hingga pukul 23.00, bahkan saking banyaknya darah korban, ceceran darah sampai mengalir ke ruangan PONED.
Sebelumnya saat kejadian kecelakaan terjadi memang Puskesmas Darmaraja-lah yang dibuat paling sibuk untuk menangani korban awal, baik yang mengalami luka ringan dan berat termasuk yang meninggal.
“Saat kejadian itu, ada seorang laki-laki yang mengaku bus yang dikendarainya masuk jurang, tapi saya sempat tidak percaya, karena dia hanya luka-luka lebam saja dibagian muka, tapi begitu korban luka mulai murudul berdatangan kami pun sempat panik,” papar Ka. Pus, yang mengaku lolos dari kejaran wartawan karena dirinya saking paniknya hanya menggunakan kolor sehabis bermain badminton.
Ka. Pus pun mengeluarkan unek-uneknya, saat kejadian dia mengontak 5 puskesmas yang memiliki ambulance termasuk puskesmas Wado yang menjadi lokasi kejadian, namun dari 5 puskesmas yang diharapkan dapat menerjunkan ambulans dengan segera untuk membantu proses evakuasi, hanya 2 Puskesmas yang justru sigap turun membantu, dari Puskesmas Jatinunggal dan Cibugel, sementara Puskesmas Situraja, Cisitu dan Wado datang membantu terlambat.
“Dalam evakuasi korban kecelakaan kemarin itu jumlah ambulance ada 3, dari Puskesmas Darmaraja, Cibugel dan Jatinunggal, rata-rata setiap ambulance itu membawa 4 korban dalam satu mobil. Dan rata-rata tiap ambulance seperti Darmaraja merujuk 2 kali ke Sumedang,”paparnya.
Setelah korban luka-luka berhasil dirujuk ke Sumedang, bantuan ambulance dari Dinas Kesehatan pun dating, padahal menurut Ka. Pus pihaknya saat itu kekurangan ambulance, terutama untuk mengevakuasi korban luka.
“Ambulance dari Sumedang itu hanya membawa mayit, karena kalau korban luka sudah dirujuk dengan menggunakan 3 ambulance sebelumnya, tapi saya kira itu mubazir, karena pasien yang akan dirujuk telah habis, apalagi yang memilah-milah mana yang perlu pertolongan segera itu ada di Puskesmas Darmaraja, jika perlu pertolongan segera, ditarik ke ambulance, yang meninggal kita kesampingkan dulu,” lanjutnya.
Untuk melakukan pertolongan itu pun Ka. Pus menurunkan berbagai elemen kesehatan berbagai profesi diturunkan termasuk kesling dan bidan pun diturunkan.
“Berbagai profesi saya turunkan, walaupun bukan bagiannya, termasuk kesling, bidan pun saya telpon, untuk turut membantu, karena ini keadaan darurat, bidan praktek saya tugaskan untuk merujuk, bidan yang ahli saya tugaskan bagian tindakan. Yang praktek sore juga baik dokter, maupun mantri pun saya suruh membantu,” jelasnya.
Ka. Pus pun berharap Dinas Kesehatan untuk dapat mempertimbangkan menambah bantuan Ambulance, apalagi Puskesmas Darmaraja merupakan puskesmas yang menjadi transit pasien baik dari Kecamatan Wado, Jatinunggal, dan Cibugel sebelum dirujuk ke RSUD Sumedang.(SUMEKS/ign)

2 COMMENTS