Batik Sumedang tinggal Nama

7 June 2010 08:39 WIB
 
4

Pilkada Serentak 2018

Batik Sumedang tinggal Nama

Memasuki wilayah Sumedang, kenangan kembali ke masa puluhan tahun silam ketika kota ini sempat menjadi bagian dari masa kanak-kanak. Jalan yang berliku di wilayah Cadas Pangeran, dengan jurang curam yang menjadi pembatas jalan, tertanam segar dalam ingatan.

Tak banyak yang berubah dengan kondisi itu. Kecuali, jalan terasa lebih sempit, juga deretan warung makan dan tahu yang berdiri di tepian jalan, yang menutup pemandangan langsung ke arah jurang. Dulu, jalanan ini sepi dan gelap di kala malam. Kini, kendaraan kami harus merambat perlahan di tengah kepadatan lalu lintas. Tersendat.

Suasana familiar itu semakin kental ketika memasuki pusat kota. Jalan-jalannya masih seperti dulu, hanya lebih semrawut. Pasar kembang, alun-alun, toko-toko kecil berpenutup papan kayu yang dinomori secara berurutan masih tetap ada. Bahkan, pabrik tahu yang berdiri sejak tahun 1914 tak berubah penampilannya.

Namun, tidak mudah mencari alamat yang diberikan. Kami harus bertanya berkali-kali untuk sampai pada kediaman Ina Mariana, perintis batik Sumedang. Rupanya ia sudah berpindah alamat ke Desa Cimasuk, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kami berhasil menemukan rumahnya yang sangat sederhana. Tidak terlihat jejak-jejak kesuksesan pengusaha perempuan yang pernah menjadi motor penggerak usaha batik Kasumedangan itu.

”Rumah saya sudah digadaikan. Ini saya menumpang pada rumah dinas suami, usaha saya bangkrut. Habis, semua habis. Utang saya bertumpuk dan sedang saya cicil sedikit demi sedikit,” kata Ina (50), yang ditemui pertengahan Februari lalu.

Ina, satu-satunya pengrajin batik kala itu, mulai memopulerkan batik Sumedang pertengahan tahun 90-an. Berbeda dengan kabupaten-kabupaten di sekitarnya, seperti Garut, Tasikmalaya, ataupun Cirebon, Sumedang tidak memiliki tradisi membatik. Kota ini justru lebih dikenal dengan tradisi kulinernya, seperti tahu sumedang, opak oded, ubi cilembu, dan sale pisang.

Dimulai dari kecintaannya terhadap batik, Ina mulai belajar membatik dari kakaknya yang memiliki usaha batik di Bengkulu. ”Saya membantu mencelup dan mencanting,” katanya. Ia kemudian memperdalam pengetahuannya dengan belajar langsung di sentra-sentra industri batik, yaitu di Yogyakarta, Pekalongan, dan Cirebon. Semua ini memberinya inspirasi untuk mengembangkan batik Kasumedangan.

Ina menciptakan motif-motif yang menurutnya ”khas” Sumedang, seperti motif lingga, kembang boled, hangjuang, klowongan tahu, mahkota (siger) binokasih, dan pintu srimanganti. ”Banyak sekali motif yang bisa dibuat kalau kita mau sedikit kreatif mencarinya dari lingkungan sekitar,” kata Ina yang mengaku motif-motif batik ciptaannya banyak terinspirasi dari sejarah kerajaan yang pernah ada di Sumedang, Geusan Ulun.

Meski demikian, menilik ragam hias batik yang diciptakannya terlihat pengaruh budaya lokal daerah lain, seperti Cirebon, Yogyakarta, Solo, maupun Pekalongan. Ragam hias ”taburan merica”, ”taburan beras”, ”merak ngibing” misalnya, ikut diadaptasi ke dalam batik Sumedang.

Serbuan batik tekstil

Industri yang dirintis Ina berkembang pesat sampai tahun 2002. Pada saat itu, ia mampu melahirkan setidaknya 20 perajin batik melalui balai pelatihan yang dimilikinya. Ia menangani proses pembuatan batik dari dari hulu sampai hilir. Selain memikirkan motif, membuat polanya, menangani pewarnaan dan pengecapan, ia juga harus memikirkan bagaimana pemasarannya. Saat itu usahanya mendapat dukungan bupati saat itu, H Misbach, yang ikut menyosialisasikan batik Sumedang dengan menganjurkan pemakaian seragam batik bagi para pegawai pemerintah daerah.

Namun, pada tahun 2004, usahanya terus mengalami kerugian, terutama setelah populernya tekstil bercorak batik. Tekstil batik ini bukan hanya datang dari luar Indonesia, tetapi juga dari daerah-daerah sekitar. ”Saya tidak akan mampu menyaingi batik tekstil. Harganya sangat murah di pasaran. Untuk batik cap yang saya buat, upah untuk mencelup, mencap, mencanting saja sudah Rp 25.000. Ongkos itu belum termasuk harga bahan, apalagi kalau bahannya adalah katun nomor satu juga obat-obatan pewarna. Paling murah selembar batik cap kami jual Rp 50.000. Sementara harga selembar batik tekstil cuma Rp 10.000. Itu pun ada yang sudah jadi kemeja,” katanya.

Di masa produktifnya itu, sebulan ia bisa menjual sekitar 600 potong batik cap dan 1 sampai 2 potong batik tulis. Ia memang tak berani berharap pada batik tulis. Dengan harga kain dan obat-obatan saat itu, sebuah batik tulis paling murah dihargai Rp 250.000 dengan masa pengerjaan sekitar dua minggu per lembar.” Jarang yang mau beli, Bu,” katanya.

Masuknya tekstil bercorak batik mengubah konstelasi usaha batik di Sumedang. Harga murah pastinya lebih disukai. Apalagi dari tampilan luar, tekstil bercorak batik tidak terlalu ”berbeda”. Belum lagi membanjirnya produk-produk batik tetangga, seperti batik Garutan, batik Tasik, ataupun Cirebon, yang motifnya lebih beragam. Singkat kata, pada tahun 2004 usaha batik Ina bangkrut dan batik Sumedang pun hilang dari pasaran. ”Utang saya sampai ratusan juta rupiah,” lanjutnya.

Di kediamannya, batik Sumedang yang tersisa tinggal dua potong. Alhasil, sewaktu ia diminta berpartisipasi dalam acara kunjungan Ny Ani Yudhoyono ke sentra batik Cirebon awal Februari lalu untuk penyerahan bantuan kompor gas, ia tak bisa hadir karena sudah tak mampu lagi memproduksi batik.

”Bapak angkat”

Kondisi ini mengundang keprihatinan pengusaha batik Komarudin Kiduya, pemilik Rumah Batik ”Komar” di Bandung. Bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam lembaga nonprofit Yayasan Batik Jawa Barat, mereka terlibat kegiatan untuk melestarikan tradisi batik yang ada di tanah Pasundan, termasuk menumbuhkan sentra-sentra industri baru di wilayah-wilayah yang tidak memiliki tradisi membatik.

Batik Sumedang menjadi salah satu prioritas dalam agenda mereka. Selain persoalan klasik, yaitu permodalan, tantangan utama bagi industri batik di Jabar adalah regenerasi pembatik. ”Jadi bentu

k bantuan yang kemungkinan kami berikan adalah pendampingan, seperti peminjaman tenaga pembatik dari kami (Batik Komar) untuk melatih para pembatik di sana sampai mereka bisa berproduksi. Nanti hasil produksi digunakan untuk perkembangan di sana,” kata Komar.

Perhatian ini tentunya memberi harapan baru bagi Ina. Selasa (2/3) lalu ia mengirimkan pesan pendek. ”Alhamdulillah, dinten Senen kamari kaping 1 Maret bantosan kompor gas ti Ibu Haji Ani SBY tos katampi, disanggakeun ku Ibu Sendy Yusuf, seueurna 5 buah. Manawi aya pesenan? Insya Allah, ibu masi

h semangat kok….” (Alhamdulillah, hari Senin 1 Maret bantuan kompor gas Ibu Ani Yudhoyono sudah diterima,

diserahkan oleh Ibu Sendy Dede Yusuf (Ketua Yayasan Batik Jawa Barat) sebanyak lima buah. Mungkin mau memesan batik? Insya Allah Ibu tetap semangat kok…).

Canting-canting yang disimpan di gudang Ina kembali dibersihkan. Saatnya untuk memulai….( Tulisan Myrna Ratna dari Kompas.com)

4 COMMENTS

  1. Ayo Bu, sy siap beli! Urang sumedang mangga mumule ciri mandiri lembur pribadi…

  2. iya Bu.. bikin lg batik Sumedang.. Keluarga dari ibu saya asli dr Sumedang, saya mau beli kok batiknya.. masa keturunan orang Sumedang ga punya batik Sumedang.. ayo Bu.. Semangat!!

  3. Hayu Ibu Ina, semangat….

    Kita lestarikan dan populerkan Batik Sumedang… Saya mau jadi salah satu bagiannya

    Insya Allah BISA…