BAGAIMANA CARA MENENTUKAN ARAH KIBLAT YANG MUDAH DAN BENAR ?

7

Kenangan indah yang tak terlupakan dengan Masjid Agung Sumedang, ketika pada waktu kecil “ngabuburit” di alun-alun dan buka puasa bersama di masjid.

Terakhir pada tahun 1993, ikut bersama-sama dengan calon jemaah haji kloter Sumedang melakukan manasik, pada waktu itu kondisi Masjid Agung rasanya masih belum direnovasi seperti sekarang ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, kini Masjid Agung Sumedang sudah mengalami renovasi dan pengembangan yang lebih luas. Namun sekarang bila berkunjung ke dalam Masjid Agung tersebut rasanya ada sedikit perasaan janggal, karena konstruksi dan arsitektur bangunan Masjid itu ternyata tidak searah dengan Kiblat. Pertanyaannya tentu adalah sbb: “Apakah dulu waktu dibangunnya Masjid tersebut tidak diarahkan ke Kiblat atau tidak tahu cara mengarahkan Kiblat yang benar ?” Untuk itu sebelumnya marilah kita simak dulu tentang sejarah dari Masjid Agung Sumedang tersebut.

Sejarah Masjid Agung Sumedang

Masjid ini diperkirakan dibangun pertama kali tahun 1781-1828, pada masa pemerintahan Bupati Sumedang Pangeran Korner. Ketika masa pemerintahan pangeran Soeria Koesoemah Adinata dengan gelar Pangeran Sugih pada tahun 1836-1882 M masjid ini dipindahkan dari lokasi lama ke kampung Sukaraja ke lokasi baru dikampung baru diatas lahan wakaf dari R. Dewi Siti Aisyah. Pembangunan masjid di mulai tanggal 3 Juni 1850 M dan diselesaikan tahun 1854 M dengan Imam pertama Penghulu R.H. Muhammad Apandi. Pemugaran yang telah dilakukan antara lain diwali pada tahun 1913 M oleh pangeran Aria Soeriaatmadja dengan gelar Pangeran Mekah, kedua kalinya pada tahun 1962 M. Ketiga tahun 1982 da keempat tahun 2002 dan diresmika oleh Gubernur Jawa Barat pada tanggal 22 April 2003. Arsitektur masjid bercorak Cina, dengan jumlah tiang seluruhnya 166 buah, 20 buah jendela dengan ukuran tinggi 4 meter dan lebar 1,5 meter. Pada bagian depan terdapat ukiran kayu jati sebagai ornamen yang dibuat tahun 1850. Di masjid ini terdapat 3 buah bedug berukura panjang 3 meter dan diameter 0,6 meter. Menara azan utama berbentuk Limas disebut mamale dengan tinggi 35,5 meter. Mimbar terbuat dari kayu jati degan 4 tiang dan sudah berusia 120 tahun. Lokasi masjid ini berada di kelurahan Regol Wetan, kecamatan Sumedang Selatan, kabupaten Sumedang.

7 COMMENTS

  1. Yang paling akurat menentukan arah kiblat adalah dimana matahari berada tepat diatas Kabah pada jam 12.00 atau jam 16.00 WIB kemudian kita mendirikan benda yang ditempat terbuka dan kemana arah bayangan dari benda tersebut, itulah arah kiblat yang benar. Kejadian dimana matahari tepat diatas Kabah, pasti akan diumumkan oleh pihak yang berwajib atau pemerintah untuk menentukan arah kiblat tersebut. Hal ini tidak terjadi setiap tahun tetapi ada tahun2 tertentu yang yang berwajib akan mengumumkannya dimana matahari tepat diatas Kabah. Tks.

  2. @ KANG ATJENG SUTARSA :

    Seluruhnya setuju bahwa setiap tahun ada dua hari dimana matahari berada tepat di atas Ka’bah, dan arah bayangan matahari dimanapun di dunia pasti mengarah ke Kiblat. Peristiwa tersebut terjadi setiap tanggal 28 Mei pukul 9.18 GMT (16.18 WIB) dan 16 Juli jam 9.27 GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa. Sedang kalau tahun kabisat, tanggal tersebut dimajukan satu hari, dengan jam yang sama.

    (SILAHKAN BACA : http://id.wikipedia.org/wiki/Kiblat )

  3. Buat Pak Atjeng Sutarsa :

    Matahari di atas Ka’bah bukan Jam 12.00 (pas), karena Ka’bah terletak di Mekkah (bukan tengah-tengah garis khatulistiwa), emangnya Mekkah adanya seperti di Pontianak ?
    Coba lihat Letak koordinat seperti yg disebutkan di atas ” Menurut Google Earth terletak di 21º 25´ 21,2 LU dan 39º 49´ 34? BT.

    Kenapa harus menunggu pemerintah Indonesia ? Kalau Pemerintah Saudi – Arabia mengumumkan seperti itu?
    Tks.

    Riyadh, 16 July 2010.

  4. Masih kurang jelas om penjelasannya!!!
    Coba terangkan pake kompas. Kearah mana seharusnya bergeser?? dan berapa derajat arah tersebut??

  5. @ Pak Samsudin :

    Yg dimaksud dalam Artikel tsb.di atas, sebenarnya hanya memanfaatkan “moment” yg terjadi di alam, yaitu pada saat Matahari jatuh tegak lurus di atas Ka’bah (tgl.28 Mei dan 16 July),pada saat itu seharusnya dapat dimanfaatkan oleh semua masyakarat (termasuk MUI-Smd) untuk ngecek bersama arah kiblat Masjid Agung Smd, karena bila menggunakan arah kiblat (katanya 25 derajat dari arah Barat ke arah Utara), tidak terlalu tepat, apalagi bila diberlakukan di seluruh Indonesia, karena Indonesia luas sekali !

    Jadi sebaiknya pada tanggal tersebut itulah dilakukan pengecekan dengan menggunakan arah sinar matahari..! Hal itu sudah diakui kebenarannya oleh para ahli Astronomy / matematikawan, bukan hanya “KATANYA” pakai kompas, karena kompas itu masih terpengaruh dengan Medan Magnet…!

    Tapi sayang.., kalau sempat tidak dilakukan..! artinya kita harus menunggu Sinar Matahari tsb.tahun depan.

  6. Pas tanggal-tanggal tersebut harusnya dicatat permanen arah-arah dan koordinatnya, jadi kita gak perlu lagi nunggu sampai tahun depannya.

  7. menentukan arah kiblat dengan matahari dapat ditentukan setiap bulan tidak hanya tergantung tnaggal 28 mei dan 16 Juli pukul 16. 17/28 aja, saya dapat membuktikan secat teoritis maupun praktek dilapangan/observasi. (achmad_sasmito@yahoo.co.id)