Alih Fungsi Lahan, Berpengaruh ke Surplus Padi

28 March 2013 14:52 WIB
 
0

DARMARAJA – Pembangunan suatu kota berpengaruh besar terhadap target surplus beras secara nasional yang ditargetkan 10 juta ton pada 2014, dan Provinsi Jawa Barat harus berkontribusi 4 juta ton. Kendala itu salahsatunya, karena lahan pertanian beralih fungsi menjadi jalan tol, pembangunan pabrik dan bandara.

Panen Raya Padi bersama Kodam III Siliwangi
Panen Raya Padi bersama Kodam III Siliwangi

Hal itu dikatakan Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, Uneef Primadi. Uneef berharap untuk pengamanan surplus beras tahun mendatang harus ada dukungan dari berbagai pihak.
“Harus ada penyusunan peraturan daerah (Perda) kaitan dengan rencana tata ruang dan tata wilayah di tiap kabupaten di Jawa Barat itu sendiri. Perda provinsi nomor 27 tahun 2010 itu sudah diterbitkan pada 31 Desember 2010, yang belum itu perda RT RW tiap-tiap kabupaten/kota. Diupayakan luas lahan baku sawah yang ada di kabupaten/kota itu masuk pada Perda RT RW kabupaten/kota tersebut,” kata Uneef Primadi kepada SumekdangOnline, usai acara Panen Raya Padi di Dusun Cibogo 2, Desa Cibogo, Kecamatan Darmaraja, yang dihadiri langsung Panglima Kodam III Siliwangi Mayjen TNI Sonny Widjaja, Kamis (28/3/2013).
Selain itu pembangunan waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, untuk Provinsi Jawa Barat berpengaruh pada penambahan luas garapan sawah, yakni sebesar 90 ribu hectar dari luas sawah yang ada di Jawa Barat tahun 2013 ini sebanyak 2 juta hectare. Meski demikian, untuk Kabuten Sumedang sendiri adanya pembangunan bendung Jatigede itu tak menutup kemungkinan akan berpengaruh pada produksi pertanian, karena berkurangnya lahan.
“Makanya untuk di Sumedang itu saya menginginkan adanya penanaman pada hibrida sebanyak 20 ribu padi hibrida ini untuk bisa menutupi deficit yang ada akibat adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi bendung Jatigede,” ungkapnya.
Kendala lahan tidak berpengaruh Jawa Barat untuk tetap surplus padi, tercatat tahun ini surplus pangan hingga 11,27 ton padi kering giling. Yang mempengaruhi terjadinya surplus tersebut, terang Uneef, karena para petani di Jawa Barat sudah mulai menggunakan benih padi hibrida. Meski, sebelumnya sempat terjadi kekhawatiran terhadap kualitas padi hibrida.
“Sekarang penanaman padi hibrida itu sudah menyebar ke 15 kabupaten/kota di Jawa Barat, padahal sebelumnya para petani itu ragu. Namu, setelah melihat performance di lapangan dan hasilnya lebih baik, mereka akhirnya tertarik,” imbuhnya.
Tingkat kehilangan hasil panen di Jawa Barat, dikatakan Uneef, sudah menurun dari semula 11,65 persen pada tahun 2011, kini 11,03 persen pada 2013. Rendemen beras berhasi ditekan pada kisaran angka maksimal 65 persen. Bahkan Jawa Barat, mencatat rendemen beras 62,72 persen, padahal sebelumnya 65,3 persen.
“Ini tak terlepas pula dari perusahaan-perusahan penggilingan padi di Jawa Barat sudah lebih baik,” ungkapnya. (FIT)

PROMO CONTENT
loading...