Sosialisasi dengan Isyarat

2 February 2018 17:52 WIB
 
0

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Bandung – Suasana relatif hening mewarnai acara sosialisasi Pilgub Jabar 2018 untuk keluarga besar Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Jawa Barat di Hotel Majesty Jl. Suryasumantri No. 91 Bandung (2/2). Namun hening bukan sepi tanpa arti, karena komunikasi di dalamnya lebih banyak menggunakan bahasa isyarat. Bahasa verbal narasumber dan moderator yang non-tunarungu, seolah-olah tenggelam oleh bahasa isyarat yang ditampilkan interpreter atau penerjemah. Mata seluruh peserta pun nyaris tertuju kepada interpreter, yang tampaknya lebih dipahami mayoritas orang yang hadir dalam ruang pertemuan itu.

Sesekali, tangan-tangan peserta merespon penerjemah, pertanda komunikasi dua arah berlangsung. Ada kesepahaman komunikator dengan khalayak atau komunikan. Pesan-pesan yang disampaikan sepertinya sangat dipahami peserta sosialisasi. Tentu, dengan harapan keluarga besar Gerkatin berpartisipasi aktif dalam Pilgub 27 Juni tahun ini.
Sangat berlasan jika Komisioner KPU Jabar, Nina Yuningsih, merasa terhormat berada di tengah-tengah keluarga besar komunitas itu. “Mereka juga butuh informasi, pemahaman, dan penyalur aspirasi politiknya, yang ujungnya meningkatkan partisipasi pemilih,” katanya sambil menambahkan bahwa Pilgub Jabar 2018 tidak akan sukses tanpa partisipasi Gerkatin.
Oleh karena itu, ia menyebut
sosialisasi dengan Gerkatin begitu penting.
Sementara itu, Ketua Gerkatin Jabar, Billy Birlan Purnama, dengan bahasa isyarat menjelaskan Gerkatin merupakan organisasi sosial tempat berkumpul penyandang tunarungu. Bahasa yang dugunakan adalah bahasa isyarat Indonesia. “Bahasa ini sangat membantu kami berkomunikasi dan mendapat akses terhadap berbagai kebutuhan pokok, termasuk hak politik,” kata Billy yang juga diterjemahkan interpreter.
Ia menyebut, kegiatan sosialisasi diikuti 80 pengurus Gerkatin dari sejumlah Kabupaten/Kota se-Jabar. “Harapannya, seluruh peserta memahami dan mampu memberi pelatihan di daerah masing-masing, serta menguatkan akses dalam memenuhi hak-haknya,” tandas Billy, juga dengan bahasa isyarat.
Saat sesi tanya jawab, hanya terdengar dua sumber suara, yakni narasumber dan interpreter.
Acara diakhiri simulasi pencoblosan di TPS.