“BATIK KASUMEDANGAN TERANCAM KEPUNAHAN”

7 May 2010 23:34 WIB
 

Courtesy by Batik Komar Collection

“Batik adalah Warisan Asli Budaya Indonesia”, pernyataan itu menggaung setelah pada tanggal 2 Okt’2009 di Abu Dhabi – United Arab Emirates dikukuhkan oleh UNESCO. Hai itu berawal dari saling claim memperebutkan budaya dengan Malaysia, akhirnya bangsa Indonesia mulai sadar jika selama ini budaya aslinya sudah di-patent-kan oleh Negara lain. Berdasar dari pengalaman tsb.kini Pemerintah Indonesia mulai beramai-ramai mendaftarkan warisan budaya lainnya untuk dijadikan hak patent supaya tidak di-claim kembali oleh Negara lain.

Hal serupa tentunya harus menjadi suatu perhatian dan tanggungjawab dari Pemerintah Daerah untuk melestarikan nilai-nilai budaya asli di daerahnya dengan cara memberikan pembinaan dan melindunginya dari kepunahan.

Batik Kasumedangan, adalah salah satu contoh Warisan Asli Budaya yang merupakan simbol Kerajaan Sumedang sejak jaman dulu, yang memiliki ciri khas budaya yang melambangkan keluruhan nilai Budaya Sunda, namun karena kurangnya perhatian dan bantuan dari Pemerintah Daerah akhirnya kini Batik Kasumedangan sudah dianggap ‘mati suri’ karena tidak lagi diproduksi oleh masyarakat Sumedang.

Sejak dicanangkannya Sumedang sebagai “Puseur Budaya Sunda”, semestinya Batik Sumedang mendapatkan tempat perhatian yang lebih, karena sekarang generasi muda nampaknya kurang / tidak meminati dalam pembuatan batik,

Hal itu sebenarnya tidak harus terjadi jika Pemerintah Daerah ‘mau peduli’ dengan cara memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat untuk membuat produksi rumahan sehingga dengan sendirinya akan dapat meningkatkan taraf penghasilan masyarakat.

Bentuk pemberdayaan masyarkat tersebut tentunya akan meningkatkan program ekonomi kerakyatan sehingga dapat menghindari tekanan dari para kapitalis pemilik modal, dan dengan demikian pengrajin tidak akan mudah gulung tikar, seperti halnya yang terjadi pada seorang pengrajin / perintis batik Kasumedangan yaitu Ibu Ina Mariana (50) di Desa Cimasuk, Kecamatan Pamulihan – Sumedang, yang sudah merintis kembali Batik Kasumedangan sejak tahun 90-an.

BACA JUGA  120 BINGKISAN DIBAGIKAN MAHASISWA FAPET UNPAD

Ibu Ina telah menciptakan motif-motif yang menurutnya ”khas” Sumedang, seperti motif lingga, kembang boled, hangjuang, klowongan tahu, mahkota (siger) binokasih, dan pintu srimanganti. ”Banyak sekali motif yang bisa dibuat kalau kita mau sedikit kreatif mencarinya dari lingkungan sekitar,” motif-motif batik ciptaannya tersebut banyak terinspirasi dari sejarah kerajaan yang pernah ada di Sumedang, Geusan Ulun,

Sebagai salah satu usaha nyata dari Pemerintah Daerah, seharusnya Pemimpin Daerah / Bupati mengeluarkan Surat Instruksi kepada Dinas terkait, untuk memberikan program pendidikan / pelatihan untuk masyakat umum dan mengistruksikan untuk membuat program kejuruan di SMK atau program ekstra kulikuler dari mulai tingkat SMP / SMU, supaya cara pembuatan batik tersebut dikenal oleh masyarakat / anak-anak sekolah, dan setelah itu untuk dapat merangsang kreatifitas masyarakat / anak-anak didik dan setiap tahunnya dapat diadakan lomba karya mendesign batik motif dari budaya asli daerah Sumedang.

Namun selain itu sebenarnya kebanyakan masyarakat masih tabu / tidak tahu bagaimana cara membuat batik tersebut, sehingga dianggapnya membuat batik itu adalah pekerjaan yang sulit dan memerlukan keahlian tinggi, tapi ternyata tidak demikian halnya karena proses pembuatan batik itu sebenarnya mudah saja.

Sebagai ilustrasinya berikut ini kami sampaikan bagaimana proses pembuatan batik dan bahan apa saja yang digunakannya.

Cara Membuat Batik:

Berikut ini adalah alat dan bahan yang harus disiapkan untuk membuat batik tulis :

  • Kain mori (bisa terbuat dari sutra atau katun)
  • Canting sebagai alat pembentuk motif,
  • Gawangan (tempat untuk m enyampirkan kain)
  • Lilin (malam) yang dicairkan
  • Panci dan kompor kecil untuk memanaskan
  • Larutan pewarna

Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembutan batik tulis ini adalah sbb:

  1. Langkah pertama adalah membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia sendiri adalah batik yang terbagi menjadi dua yaitu : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol, dan batik pesisiran dengan ciri khas natural seperti gambar bunga dan kupu-kupu. Membuat design atau motif ini dapat menggunakan pensil.
  2. Courtesy by Batik Komar Collection

    Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam menggunakan canting (dikandangi / dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.

  3. Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
  4. Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu.
  5. Setelah dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
  6. Courtesy by Batik Komar Collection

    Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama.

  7. Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
  8. Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
  9. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting) untuk menahan warna pertama dan kedua.
  10. Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
  11. Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap untuk digunakan.
  12. Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.

Video proses pembuatannya dapat dilihat sbb :

Demikian sekilas gambaran ilustrasi tentang cara pembuatan batik (tulis), sehingga dengan demikian diharapkan dapat merangsang masyarakat untuk mencoba memulai kembali membuat tradisi batik, seperti daerah-daerah lainnya di Jawa Barat yaitu Garut, Tasikmalaya dan Cirebon.

Dengan demikian diharapkan Kota Sumedang nantinya tidak hanya terkenal sebagai kota kuliner yang terkenal dengan Tahu Sumedang, Opak Oded, Ubi Cilembu, dan Sale Pisang-nya, tapi kelak Sumedang akan memiki industri batik unggulan yang terkenal sampai mancanegara.

Meski jumlah pembatik Kasumedangan pada saat ini sangat minim sekali, seni ini potensial untuk dikembangkan. Tak hanya andal menyerap tenaga kerja terampil, pengembangan industri batik berpeluang meningkatkan daya tarik wisata Sumedang, yang tahun ini mencanangkan diri sebagai “Puseur” Budaya Sunda.

Semoga Sumedang Tandang – Makalangan.

Salam Sono ti Urang Wado,

Ir.H.Surahman,M.Tech,M.Eng,MBA

Photo – photo : Courtesy by Batik Komar Collection

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.