Waduh, Warga OTD Jatigede Krisis Sarana Ibadah

29 May 2016 21:26 WIB
 
0

SUMEDANGONLINE-WADO: Warga terkena dampak waduk Jatigede mulai mengeluh dengan minimnya sarana ibadah, padahal dalam beberapa hari ke depan akan memasuki Bulan Ramadan.
Salahseorang warga Desa Desa Cisurat, Dedeh, membenarkan hal itu. Ia mengeluh kondisi sarana ibada menjelang Ramadan tahun ini. Sebut dia, suasananya akan berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun lalu mereka masih melakukan ibadah solat sunat tarawih di masjid jami Cisurat, namun saat ini sudah di bongkar karena terendam air permukaan waduk Jatigede.
Sementara, masjid pengganti yang saat ini tengah dibangun masih belum selesai. Sebutnya, banyak warga yang menghawatirkan masjid belum selesai, dan tidak bisa digunakan pada saat bulan ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.
“Ya pasti merasa berbeda dari tahun lalu. Karena saat ini kemungkinan kita melakukan tarawih di mushola-mushola kecil yang ada di lingkungan RT,” kata dia.
Bagaimana pun lanjutnya, seharusnya pemerintah memberikan prioritas khusus untuk sarana umum. Seperti sarana keagamaan, menurutnya, sarana peribadatan itu sangat penting karena wilayah yang mayoritas agama Islam tentu memerlukan masjid untuk beribadah.
“Sarana peribadahan dan pendidikan harus diutamakan, karena itu sangat penting,” kata dia.
Diharapkan, mesjid yang saat ini dibangun bisa dipakai oleh masyarakat untuk solat Idul fitri nanti, karena mereka menilai moment setahun sekali itu tidak diharapkan akan lebur hanya karena ada penggenangan.
“Mudah-mudahan pada saat solat Idulfitri nanti mesjidnya sudah selesai,” ucapnya
Sekertaris Desa Cisurat, Kusmiasih, membenarkan tentang adanya keluhan warga terkait sarana fasilitas umum yang belum memadai seperti bangunan sarana keagamaan. Meski demikian, Kusmiasih mengaku optimis jika masjid yang saat ini sudah mencapai 60 persen pembangunannya, pada bulan Ramadan nanti sudah bisa digunakan untuk melaksanakan solat tarawih, meskipun kondisinya belum mencapai seratus persen.
“Saya sudah menanyakan ke DKM-nya, sepertinya untuk ramadan sudah bisa digunakan untuk solat tarawih,” ucapnya.
Ia pun berharap, agar warga khusuk dalam mengerjakan ibadah puasa, ia menginginkan pembangunan masjid dapat selesai pada Hari Raya Idul fitri nanti agar masyarakat tidak kehilangan moment Solat Id bersama dan langsung bermaaf-maafan di masjid.
Selain itu, di relokasi lainnya, seperti di blok pasir Kanaga, eks Desa Cibogo yang saat ini sudah menjadi wilayah Desa Tarunajaya, Kecamatan Darmaraja, warganya juga mengeluh serupa sebab di tempat mereka pembangunan masjid tak kunjung selesai sebab terkendala dengan anggaran.
“Tempat kami belum punya mesjid, ada juga belum kelar, masih sekitar 60 presen lagi untuk mencapai pinising, kami terbentur oleh anggaran, mengandalkan swadaya sudah tidak mampu jangankan untuk menyumbang mesjid untuk makan sehari-hari juga warga sudah kelabakan,” ucap Dadang.
Sementara itu, di Lingkungan Sawah Lega, Desa Ranggon, Kecamatan Darmaraja, meski pembangunan masjid Miftahusalam sudah beres pembangunannya. Namun masih menyisakan hutang yang cukup besar, lebih dari Rp 123 juta. Hutang tersebut muncul karena panitia mempergunakan dana talang untuk berbagai kebutuhan selama proses pembangunan, jika tidak, maka pembangunan masjid akan molor seperti daerah lainnya. Ini memberikan peluang bagi para donatur, untuk memberikan bantuan.
“Kami yakin, hutang-hutang ini bisa terbayar dengan izin Allah. Kita serahkan saja semuanya sama Allah,” ungkap Ketua Panita Pembangunan Masjid Miftahussalam, Komar dalam pemaparan laporan pertanggungjawabannya.