RMI-NU Sumedang gelar ngaji sejarah bareng

1 October 2016 19:08 WIB
 
0
Ketua PCNU Kab. Sumedang, saat memberikan pemaparan dalam acara ngaji sejarah bareng.
Ayi Abdul Kohar
Ketua PCNU Kab. Sumedang, saat memberikan pemaparan dalam acara ngaji sejarah bareng.

SUMEDANGONLINE: Memperingati Gerakan 30 September, Pimpinan Cabang Lembaga Rabithah Ma’ahad Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Kabupaten Sumedang melaksanakan kegiatan ngaji sejarah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada malam Sabtu (30/9) di Masjid Islamic Center samping Kantor PCNU Sumedang.
Kegiatan ngaji sejarah ini dihadiri oleh 150 orang. Mereka terdiri dari pimpinan pesantren, pengurus PCNU Sumedang, dan para santri perwakilan dari tiap pesantren yang ada di Kabupaten Sumedang. Adapun pengisi materinya berjumlah lima orang. Mereka terdiri dari Ketua Lesbumi Jawa Barat Dodo Widarda, perwakilan dari Polres Sumedang Supriadi, perwakilan dari Kodim 0610 Sumedang Supriatna, Perwakilan dari Kesbangpol Kabupaten Sumedang, dan pakar sejarah KH. Alan Dahlan Ahmad Marzuki.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang H Sa’dulloh yang memprakarsai kegiatan ngaji sejarah ini menyampaikan bahwa saat ini banyak sejarah PKI yang dikaburkan.
“Banyak warga Indonesia yang memahami sejarah G 30 S itu yang sesuai di film-film yang dulu ketika zaman orba sering diputar di televisi setiap malam 30 September. Padahal dalam film tersebut banyak sejarah yang dikaburkan. Ini semua harus diluruskan,” kata H Sa’dulloh.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa saat ini ada isu PKI akan bangkit kembali, dan sasaran objek yang akan dihabisi oleh PKI saat ini yaitu warga NU. “Tentu isu ini juga harus diluruskan dalam ngaji sejarah ini,” tandasnya.
Ketua Lesbumi Jawa Barat, Dodo Widarda yang merupakan salahsatu dosen di UIN Sunan Gunung Jati dalam materinya memaparkan pembenaran tentang sejarah sudah ada dalam buku putih. Aasan NU dulu melawan PKI karena PKI-nya sendiri dulu akan menghabisi NU.
“Kalau NU waktu Tahun 1965 hanya diam saja, maka PKI akan seenaknya menghabisi warga NU. Daripada dihabisi dengan seenaknya, NU lebih baik melawan,” tutur Dodo Widarda, dalam pemaparannya.
Sementara itu, menyikapi isu bahwa sekarang Bangsa Indonesia harus meminta maaf terhadap PKI. Malahan akan membawa isu ini ke pengadilan dunia. Dodo Widarda, menjelaskan isu tersebut hanyalah buatan luar negeri dengan tujuan ingin mengkerdilkan Bangsa Indonesia.
“Indonesia tidak perlu meminta maaf terhadap PKI. Justru seharusnya PKI yang meminta maaf terhadap Bangsa Indonesia,” tegasnya.
Dodo yang pada saat itu berbicara tentang NKRI dan NU. Menyebutkan, NKRI ada tentaranya bernama TNI, di NU juga ada tentaranya bernama Banser atau sering diplesetkan dengan Tentara Nahdlatul Ulama (TNU).
“TNI dan TNU dulu bersatu bersama-sama melawan PKI dan membangun NKRI. Bagi NU, NKRI ini sudah final karena NU salah satu organisasi yang mengarsiteki berdirinya NKRI. Jadi ketika ada yang ingin merusak bangunan NKRI, NU akan sekuat tenaga menghadangnya,” pungkasnya. (*/rls)