Perpanjangan tanggap darurat tergantung besok

3 October 2016 21:01 WIB
 
0
Suasana rapat koordinasi penanggulangan bencana.
Humas Setda Sumedang
Suasana rapat koordinasi penanggulangan bencana.

SUMEDANGONLINE: Perlu tidaknya perpanjangan status Tanggap Darurat Bencana akan diputuskan Selasa (4/10) atau bertepatan dengan berakhirnya 14 hari masa Tanggap Darurat yang sudah diberlakukan sejak 21 September 2016 lalu. Hal tersebut disampaikan Bupati H. Eka Setiawan dalam Jumpa Pers usai memimpin rapat koordinasi penanganan bencana di Ruang Cakrabuana, Senin (3/10).
Dikatakan Bupati, meskipun selaku Kepala Daerah ia memiliki wewenang untuk mengeluarkan perpanjangan Tanggap Darurat namun ia masih menunggu hasil perkembangan di lapangan serta hasil pendataan korban bencana yang benar-benar fixed. “Tim sedang ke lapangan untuk mensinkronkan kajian yang didapat dari Badan Geologi dengan pemetaan di lapangan. Kita tentukan mana rumah yang benar-benar aman dan mana yang tidak aman dan harus direlokasi,” ujarnya.
Untuk mendapatkan data yang benar-benar valid, SKPD terkait, unsur Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB dan BPBD Jawa Barat dengan didampingi Camat dan Kepala Desa bergerak langsung ke lokasi bencana untuk memverifikasi data rumah-rumah warga yang terkena dampak bencana. “Yang menjadi dasar untuk menetapkan jenis bantuan yang diberikan adalah penilaian kerusakan dari BNPB dan BPBD. Apakah nantinya mereka semua direlokasi atau hanya sebagian ditentukan hasil pendataan Tim,” tuturnya.
Sedangkan untuk penanganan jangka panjang, pihaknya akan membuat action plan tentang relokasi warga, termasuk rencana penempatan warga di hunian sementara (Huntara). “Sudah kami putuskan bahwa selama menuju pemulihan bencana, para pengungsi akan ditempatkan di Huntara yakni perumahan di Blok Cikoang Desa Sakurjaya Kecamatan Ujungjaya yang tadinya diperuntukkan bagi OTD,” ucapnya.
Curah hujan yang masih relatif tinggi juga menjadi alasan kemungkinan diperpanjangnya status Tanggap Darurat. Menurut perwakilan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ruhimat, secara keseluruhan prospek cuaca untuk tiga bulan ke depan rata-rata bercurah hujan tinggi. “Bulan-bulan ini kita mengalami La Nina Lemah dalam arti musim hujan mengalami percepatan selama dua dekade yakni sebelum Bulan September 2016. Sampai Bulan Desember 2016 curah hujan akan relatif tinggi,” katanya.
Meski dikategorikan masih di ambang menengah dan sifat hujannya normal, namun akan berdampak pada perpindahan material tanah sehingga kemungkinan longsor masih ada. “Hasil kajian BMKG ini harus pula dikolaborasikan dengan hasil kajian geologi sehingga didapatkan data pasti tentang daerah yang benar-benar terancam bencana,” tuturnya.
Sementara itu, Kapolres Sumedang Agus Iman Rifai meminta material longsoran yang berpotensi menutupi kembali jalan agar segera dipindahkan. “Disposal akibat longsor masih banyak di pinggir-pinggir jalan. Kalau dibiarkan, dikhawatirkan akan turun ke jalan dan menjadi penyebab kemacetan,” ucapnya.
Menurutnya, selain penyediaan alat berat di titik-titik rawan longsor, juga perlu adanya petugas yang standby untuk mengoperasikannya. “Sewaktu-waktu longsor susulan bisa terjadi. Untuk itu, petugas harus selalu siaga di tempat,” pintanya.
Permintaan tersebut disanggupi oleh Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Sujatmoko yang turut hadir dalam rapat tersebut. Selama ini, pihaknya secara bertahap berusaha membersihkan material longsoran tersebut. “Memang kami membuangnya secara bertahap. Selanjutnya kami akan menambah armada untuk mengangkut semuanya,” katanya.
Dalam rapat tersebut, Camat Sumedang Selatan Dedi Tarsidi Wiriaatmaja melaporkan jumlah rumah warga yang terkena dampak bencana di wilayahnya. “Di Desa Ciherang jumlah rumah yang rusak berat sebanyak 47 rumah, termasuk 12 bangunan yang ambruk. Sedangkan yang rusak menengah sebanyak 43 rumah, rusak ringan 51 dan terancam 305 rumah,” terangnya.
Sedangkan di Kelurahan Pasanggrahan Baru yang meliputi Lingkungan Cimareme dan Anjung terdapat 4 rumah rusak berat, 9 rumah rusak menengah, dan 30 rumah terancam. “Di Kelurahan Pasanggarahan Baru tidak ada rumah yang kondisinya rusak ringan. Yang ada rusak berat, menengah dan terancam,” ujarnya. (hms)