Patilasan Pangeran Jayakarta pun tenggelam oleh Jatigede

27 August 2016 02:16 WIB
 
0
BERDOA - Seorang pengjung dan juru pemilihara Situs Lameta (bersarung) tengah berdoa di makam Mbah Dira dan Toa.
Pitriyani
BERDOA - Seorang pengjung dan juru pemilihara Situs Lameta (bersarung) tengah berdoa di makam Mbah Dira dan Toa.
loading...

KETIKA belum ada alat berat untuk menghancurkan gunung atau bukit, masyarakat kerap datang mengambil tanah di makam Embah Dira dan Toa, setelah itu gunung dan bukit pun dapat hancur. Cerita tutur tinular tersebut terus mengalir hingga sekarang, bagaimana kisahnya, berikut penelusurannya.

DARI sebuah buku yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, makam Embah Dira dan Toa masuk cagar budaya yang ada di kawasan Jatigede yang tercata akan hilang dari tempatnya semula, karena adanya proyek Jatigede.
Situs yang dalam buku berjudul Situs-Situs Purbakala Jatigede Kabupaten Sumedang itu, terletak di pinggir jalan desa Lameta. Lokasinya yang berada di pinggir perumahan penduduk membuat Situs Lameta oleh warga ditembok dengan dinding setinggi satu meter, selain itu ada pagar pembatas yang terbuat dari bambu mengelilingi makam tersebut.
“Sengaja kami pagar dan kunci, karena kemarin saja ada orang gila yang tidur-tiduran di makam ini,” ujar Juru Pemelihara Situs Lameta, Iri Lesmana, Selasa (3/7/2012).
Menurut keterangan juru pemelihara itu di makam tersebut terdapat dua makam kuno yang terletak berdampingan merupakan ayah dan anak, yakni Embah Dira dan Putranya Embah Toa, dengan jarak kurang dari tiga meter. Dengan susunan beberapa batu monolit setinggi 15-20 centimeter.
“Luas lahannya sekitar 3,5 meter x 2,5 meter, jadi kalau para penziarah datang ke sini leluasa,” tambah Iri.
Menurut Iri, masyarakat setempat yakin jika Embah Dira dan Toa merupakan sosok penjaga sungai Ciliwung dan Cisandane. Dan mereka mempercayai jika Embah Dira tersebut merupakan sosok dari Pangeran Jayakarta, salah seorang pendiri Jakarta.
Keyakinan jika Situs Lameta merupakan patilasan Pangeran Jayakarta sudah menyebar dari telinga-ketelingan ditatar masyarakat genangan, bahkan banyak diantara penduduk yang masih mempercayai hal itu, sebelum berangkat berusaha ke Jakarta, sengaja lebih dahulu berkunjung ke Situs Lameta untuk ritual nyuguh.
“Biasanya mereka yang datang memang mau bekerja ke Jakarta, mereka kesini dengan melakukan ritual nyuguh (memberi sesajen),” terangnya.