Menpora Ingin Soegondo Djojopuspito Jadi Pahlawan Nasional

30 October 2016 06:38 WIB
 
2
Menpora Imam Nahrawi saat menghadiri acara Renungan dan Tasyakuran di Museum Sumpah Pemuda Jln. Kramat Raya, Senin, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10) malam.
Humas Menpora
Menpora Imam Nahrawi saat menghadiri acara Renungan dan Tasyakuran di Museum Sumpah Pemuda Jln. Kramat Raya, Senin, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10) malam.

SUMEDANGONLINE, JAKARTA – Nama Soegondo Djojopuspito dalam merumuskan dan melahirkan teks Sumpah Pemuda pada tahun 1928 memiliki peran yang besar. Untuk menghargai jasa beliau, Menpora Imam Nahrawi pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke- 88 tahun ini menginginkan Soegondo bisa diangkat untuk menjadi pahlawan nasional. Hal itu disampaikan Menpora ketika menghadiri acara Renungan dan Tasyakuran di Museum Sumpah Pemuda Jln. Kramat Raya, Senin, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10/2016) malam.
Pada sambutannya Menpora mengatakan, peran Sugondo Djojopuspito dalam kongres Sumpah Pemuda II layak diangkat sebagai pahlawan nasional. “Seperti yang kita tahu sidang pemuda ke II di pimpin oleh Sugondo Djojopuspito. Sekarang namanya diabadikan di Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PP-PON) di Cibubur tapi sampai saat ini Sugondo Djojopuspito belum diangkat sebagai pahlawan nasional. Karena itu melihat jasa, prestasinya dan kemauan Sugondo Djojopuspito untuk mempertemukan perbedaan ini dengan sebuah organisasi yang bernama PPPI maka Sugondo Djojopuspito layak di anugrahi sebagai pahlawan nasional,” ucap Imam.
Seperti yang sudah di ketahui, bahwa Sugondo seorang pemuda yang terlibat dalam organisasi pemuda yang PPI (Persatuan Pemuda Indonesia). Pada tahun 1926 saat Konggres Pemuda I, Sugondo ikut serta dalam kegiatan tersebut. Tahun 1928, ketika akan ada Konggres Pemuda II 1928, maka Sugondo terpilih jadi Ketua atas persetujuan Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua PPI di Negeri Belanda dan Ir Sukarno di Bandung. Mengapa Sugondo terpilih menjadi Ketua Konggres, karena ia adalah anggota PPI (Persatuan Pemuda Indonesia – wadah pemuda independen pada waktu itu dan bukan berdasarkan kesukuan. Konggres Pemuda 1928 yang berlangsung tanggal 27-28 Oktober 1928 di Jakarta menghasilkan Sumpah Pemuda1928 yang terkenal itu, di mana Para Pemuda setuju denganTrilogi: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: INDONESIA.
Menurut Imam, kegiatan ini berupa renungan dan syakuran Hari Sumpah Pemuda ke-88 di Museum Sumpah Pemuda karena pada waktu itu para pemuda berkumpul ditempat ini (Museum Sumpah Pemuda) untuk berikrar bersama-sama dan menghasilkan sumpah pemuda. “Saya harapkan para pemuda saat ini di seluruh tanah air untuk betul-betul menggelorakan semangat api sumpah pemuda secara sungguh-sungguh dan penuh makna. Karena tantang hari ini berbeda dengan dulu. Dulu tantangannya menghadapi penjajah sekarang tantangannya lebih berat, baik persoalan moral, korupsi, narkoba dan radikalisme. Inilah tantangan kita semua,” kata Imam.
Imam mengajak semua pemuda untuk melahirkan sejarah baru sehingga 88 tahun yang akan datang kita semua dapat di kenang oleh generasi setelah kita. Karenanya kita harus berbuat sesuatu hal yang positif, produktif dan bermanfaat untuk generasi setelah kita. Selain itu, pemuda juga harus terlibat di level dunia dalam bidang apapun termasuk olahraga. Berikan anak muda kesempatan untuk tampil di level internasional untuk mengharumkan nama Indonesia.
Selain itu, Imam juga akan terus mendorong, agar program-program yang di kerjakan oleh kementerian atau oleh lembaga yang lain untuk melibatkan anak muda. Lebih dari itu anak muda harus di fasilitasi karena mereka adalah generasi yang produktif dan pada saatnya nanti mereka akan menjadi pemimpin.
Di akhir acara Imam memotong tumpeng didampingi Plt Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Faisal Abdullah Asdep Peningkatan Kreativitas Pemuda Eny Budi Sri Haryani, Karo Humas dan Hukum Amar Ahmad dan Staf Khusus Menpora Bidang Pemuda, Zainul Munasichin serta para pemuda yang tergabung di OKP. (rep)

2 COMMENTS