Menelusuri Curug Jatma, Ssst ada gua katanya

8 October 2016 17:06 WIB
 
0
Curug Jatma dengan segala keindahannya.
Igun Gunawan
Curug Jatma dengan segala keindahannya.

TERIK matahari tak menyurutkan kami, untuk mencapai titik curug Jatma yang berada di antara dua cukang (lembah) bukit Chandra, perbatasan Desa Cilengkrang dan Sukajadi. Jalan yang dilalui merupakan jalan setapak yang biasa digunakan para petani untuk berladang dan bersawah di lokasi tersebut.
Selain setapak, jalan itu pun berkontur menurun. Ini membuat konsentrasi kami harus ekstra hati-hati, jika saja malaweung dapat dipastikan akan terpeleset dan masuk ke jurang yang tingginya hingga belasan meter.
“Waduh, kumaha lamun labuh tigulutuk sigana, moal bisa ditulungan (Waduh, bagaimana kalau jatuh sepertinya tak bisa ditolong),” kata pemandu jalan, Kosam Erawan, di tengah perjalanan.
Bahkan dari tiga pemandu jalan yang bersama kami, dua diantaranya, yakni Kosam Erawan dan Suwangsih terpaksa membatalkan niatnya untuk menggapai titik curug yang berada di dasar lembah, ia memilih kembali. Memang perjalanan yang ditempuh dalam kurun waktu satu jam itu menguji adrenalin. Beberapa kali kami harus saling berpegangan, agar tak terpeselet ke jurang, sebelum akhirnya melihat hamparan sawah yang luasannya kurang dari sehektar.
“Di sini ada dua curug tapi yang banyak dikunjungi warga setempat hanya curug Jatma, sementara curug Cilengkrang jarang,” ujar seorang petani yang tengah membuat nasi liwet di saung sawah, ketika kami menghampiri mereka.
Dari sana perjalanan hanya berkisar 500 meter, jalan yang ditempuh merupakan sisa-sisa bebatuan. Menurut warga setempat, batuan-batuan besar yang ada di lokasi tersebut merupakan batuan yang terlempar saat gunung Galunggung meletus tahun 1982 lalu.
Suara derasnya air yang jatuh dari ketinggian lebih dari 70 meter sangat terasa, suhu udara mulai dingin. Rasa capek yang semenjak tadi menghampiri, sirna sudah, yang ada perasaan takjub. Sayang lokasi tersebut belum banyak yang mengetahui, hingga suasananya sepi hanya ada beberapa pelajar setempat yang tengah bermain,dan pemilik lahan.
“Yang datang di sini, paling hanya remaja dan anak-anak sekolah. Itu pun hanya warga disekitar sini, karena belum ada akses jalan tembus langsung,” ujar Linda (37), pemilik lahan di lokasi air terjun Jatma tersebut.
Di lokasi air terjun pun terdapat sebuah gua kecil, gua tersebut merupakan bentukan dari bongkahan batu cadas dan batu lemparan dari gunung Galunggung. Selain itu, akar-akar dari pohon yang diprakirakan berusia ratusan tahun, kerap dijadikan mainan anak-anak untuk bermain ayunan.
Menurut pemandu perjalanan, Dikdik (18), selama belum ada akses jalan. Lokasi menuju curug Jatma, sangat cocok untuk mengadu adrenalin. “Kalau mau menguji keberanian ya datang ke sini melalui bukit Pasirhurip yang kita lalui tadi, sebenarnya ada jalan yang agak landai, tapi kurang menantang,” terangnya.
Dikdik maupun Linda sangat berharap dua curug yang ada di kawasan Cilengkrang tersebut dapat dikelola dengan baik oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumedang. “Potensi alam ini, seharusnya dikelola dengan baik oleh Disbudparpora, selanjutnya mereka juga turut mempromosikan. Mungkin bisa menambah PAD bagi Pemkab Sumedang yang selama ini deficit terus,” harap Linda. ***