Masih Takut KB Implan

31 May 2016 14:48 WIB
 
0

SUMEdANGONLINE: Kesadaran masyarakat menggunakan alat kontrasepsi di Sumedang masih rendah. Hal ini menyebabkan program keluarga berencana tidak berjalan karena tidak berhasil menekan angka kelahiran anak.
Kepala Bidang Keluarga Berencana, pada BPMPDKBPP Kabupaten Sumedang, Hoerul, penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang spiral (IUD) dan implan sangat rendah. Persentase pengguna alat kontrasepsi jangka panjang hanya sekitar 18 persen. Sisanya menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek berupa pil dan suntik.
“Padahal, alat kontrasepsi jangka pendek kurang efektif karena akseptor (pengguna) sering lupa. Jika suntik atau minum pil tidak dijalani secara rutin, angka drop out KB akan meningkat, “ ujarnya.
Berdasarkan survey pada tahun 2012, sebanyak 62 persen peserta KB menggunakan alat kontrasepsi modern dan tradisional. Pengguna IUD baru 4 persen, implant 3 persen, suntik 32 persen, dan pil 14 persen.
Hal ini mengakibatkan angka kelahiran di tinggi. Menurutnya, data nasional dari BKKBN jumlah kelahiran di Indonesia pada 2014 mencapai 4 juta bayi per tahun dengan angka kelahiran 2,6.
“Pada 2025, kami menargetkan angka kelahiran menurun jadi 2,1. Dengan angka itu, baru tercapai program dua anak cukup pada KB,” katanya.
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang KB, pemerintag mengembangkan berbagai strategi, di antaranya memberikan layanan promosi dan konseling kesehatan reproduksi fasilitas kesehatan dan kelompok-kelompok kegiatan masyarakat.
Promosi tersebut dapat berupa pengaturan proses reproduksi berdasarkan siklus kehidupan manusia, mulai dari proses konsepsi, janin, kehamilan, kelahiran, bayi dan anak, remaja, usia reproduksi sampai lanjut usia, baik laki-laki maupun perempuan.
Kegiatan promosi dapat di lakukan di puskesmas, saat kegiatan kelompok masyarakat, di sekolah, dan dalam lingkungan keluarga.