KPID Jabar Award 2016: Nyeni, Nyakola, Nyunda, Narigama

21 November 2016 07:15 WIB
 
0
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan beserta ibu Netty Prasetiyani Heryawan  menyerahkan piala dan penghargaan serta uang kepada para pemenang  KPID Award ke 9 tahun 2016 di Hotel Panghegar Bandung Jumat 18 Nop 2016.
HUMAS JABAR/ Rio Priadmaja
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan beserta ibu Netty Prasetiyani Heryawan menyerahkan piala dan penghargaan serta uang kepada para pemenang KPID Award ke 9 tahun 2016 di Hotel Panghegar Bandung Jumat 18 Nop 2016.

BANDUNG – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, menyelenggarakan KPID Jabar Award 2016. Gelaran ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap lembaga penyiaran radio dan televisi di Jawa Barat, yang telah berusaha menyuguhkan siaran yang menghibur secara sehat, mendidik, mengandung informasi bermanfaat, serta menjadi media kontrol dan perekat sosial.
KPID Jabar Award Tahun ini, diikuti 80 lembaga penyiaran terdiri dari 58 peserta lembaga penyiaran radio (49 radio swasta dan 9 radio komunitas) dan 22 lembaga penyiaran televisi (14 televisi lokal dan 8 televisi SSJ), dimana kurang lebih keseluruhannya telah mengumpulkan sebanyak 183 karya.
Gubernur Jawa Barat hadir pada acara tersebut mengatakan, bahwa sudah tugas KPID untuk menjamin manfaat penyiaran bagi pemirsa (TV), ataupun pendengar (radio).
”Sebagai konsekuensi UU penyiaran, tugas KPID memantau kesehatan penyiaran,” Kata Gubernur yang akrab disapa Aher ini.
Lanjut Aher, Dirinya menuntut para insan penyiaran agar keseluruhannya membuat program yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Sehingga manfaat hiburan dan manfaat edukasi, dapat diperoleh secara seimbang.
Selain itu, Aher juga mengingatkan para lembaga penyiaran untuk tidak mengejar “rating”, atau banyaknya penonton atau pendengar saja. Akan tetapi diluar itu, komitmen moralitas adalah yang utama.
Ini Dirinya katakan sebab menurutnya pengaruh penyiaran sangatlah besar dalam pembentukan karakter bangsa.
“Pada hari ini jaman berubah, kelihatannya yang sangat berpengaruh adalah lembaga penyiaran atau media. Raihlah pahala kebaikan yang besar oleh lembaga penyiaran ini. Bangunlah penyiaran yang baik yang membangun karakter bangsa, ini yang akan membangun kejayaan di masa yang akan datang,” Ucap Gubernur.
“Kita tampilkan yang benar dengan cara menarik, itulah tugas lembaga – lembaga penyiaran saat ini,” Pungkasnya.
Senada Aher, Ketua KPID Jawa Barat Dedeh Fardiah mengaku bahwa di bidang isi siaran, pihaknya terus melakukan pemantauan, pengawasan isi siaran, dan menindak lanjuti aduan masyarakat terkait penyiaran dengan sebaik – baiknya.
Salah satunya lewat “Gemas Pedas”, atau Gerakan Masyarakat Jawa Barat Mendorong Penyiaran Sehat Pemirsa Cerdas. Sebagai bentuk pembinaan terhadap masyarakat terkait penyiaran sehat.
“Kita juga mendukung ‘Jabar tolak kekerasan’, dalam program tayangan kami juga melihat bahwa ini salah satu penyebab terjadinya kekerasan melalui tayangan,” Katanya.
Maka Dedeh pun berharap adanya sinergitas antar lembaga penyiaran yang tersebar di 27 Kabupaten/ Kota agar senantiasa menghadirkan suguhan yang sehat, ramah anak, dan inovatif.
Sementara itu, Ketua Panitia Acara Mahi M. Hikmat mengatakan, sesuai tema KPID Jabar Award ke- 9 tahun 2016 “Mendorong Insan Penyiaran yang Nyeni, Nyakola, Nyunda, Narigama.” Ini berati KPID Jabar punya obesesi agar program acara yang ditayangkan lembaga penyiaran hari ini, esok, dan seterusnya, memiliki nilai estetika yang luhur, nilai seni yang bisa menghibur secara sehat.
Nyakola, berati program acara yang ada di lembaga penyiaran, mesti memiliki nilai edukasi yang tinggi, ada nilai yang memberikan pendidikan kepada warga Jawa Barat. Nyunda, dalam arti yang luas adalah lembaga penyiaran tak ragu untuk menyoroti berbagai entitas budaya lokal yang ada di Jawa Barat.
“Narigama, mengandung arti bahwa semua program acara yang ada di Jawa Barat harus sesuai dengan karakteristik masyarakat Jawa Barat yang religius, yang punya nolai – nilai keagamaan yang luar biasa,” Ucapnya.
Terkait penghargaan, Mahi mengatakan bahwa penilaian dilakukan Dewan Juri yang independen, objektif, adil, free of interest, bertanggung jawab, dan profesional.
“Para pemenang mendapatkan piagam penghargaan, piala, dan uang ‘kadedeuh’,” Katanya.**