IPPNU MA gelar pelatihan jurnalistik

29 September 2016 19:07 WIB
 
0
Pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan IPNU berlangsung di Aula Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri ini dihadiri oleh 150 siswa MA Plus Al-Hikam, Rabu (28/9/2016).
Ayi Abdul Kohar
Pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan IPNU berlangsung di Aula Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri ini dihadiri oleh 150 siswa MA Plus Al-Hikam, Rabu (28/9/2016).

SUMEDANGONLINE: Pengurus Pimpinan Komisariat IPNU dan IPPNU MA Plus Al-Hikam, mengelar kegiatan pelatihan jurnalistik. Pelatihan berlangsung di Aula Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri ini dihadiri oleh 150 siswa MA Plus Al-Hikam, Rabu (28/9/2016).
Materi dalam patihan tersebut dibagi menjadi dua sesion. Sesion pertama tentang teori jurnalistik dan sesion kedua tentang praktik menulis. Pemateri pada session pertama salah satu wartawan senior, Ahmad Setiaji. Dalam pemaparannya Ahmad, mengupas tentang teori dasar jurnalistik dan pentingnya tulisan sebagai media dakwah.
Selain itu Ahmad selalu memberikan motivasi kepada para peserta untuk lebih semangat dalam menulis. Menulis itu mengasyikan, banyak sekarang orang menjadi kaya gara-gara sering menulis. Menulis juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk berdakwah.
“Berdakwah di zaman sekarang tidak cukup dengan berceramah, tapi harus ditulis. Oleh karena itu ayo menulis mulai dari sekarang dan jangan takut memulai menulis,” ajak Ahmad.
Pemateri pada sesion kedua diisi pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Sumedang. Ayi Abdul Kohar sebagai ketua LTN NU Kabupaten Sumedang dibarengi oleh beberapa pengurus LTN NU yang lainnya membimbing para peserta pelatihan jurnalistik untuk praktik membuat tulisan.
Dalam kesempatan itu juga Ayi menyampaikan bahwa seluruh panitia dan peserta pelatihan jurnalistik merupakan kader Nahdlatul Ulama. Kader NU harus dilatih cara berorganisasi dan harus pandai menulis. Saat ini banyak tulisan-tulisan di media yang penulisnya bukan dari orang NU. Karena penulisnya bukan orang NU maka muatan isi tulisannya pun banyak yang tidak sefaham dengan NU.
Ini merupakan tantangan untuk generasi atau kader NU kedepan. Ilmu biar tidak lepas maka harus diikat, dan alat untuk mengikatnya yaitu tulisan. Coba lihat ulama-ulama terdahulu. Mereka sangat produktif dalam menulis. Kitab-kitab kuning atau kitab salaf yang sering dipelajari di pesantren-pesantren, itu semua hasil karya tulisan para ulama terdahulu.
“Kita sebagai generasi muda NU harus mengikuti jejak para ulama. Pandai-pandailah dalam menulis”, tutup Ayi Abdul Kohar.(*/rls)