Ini Penampakan Bulan Bercincin di Sumedang

23 July 2016 03:49 WIB
 
3
Fenomena bulan bercincin terjadi di langit Sumedang terlihat jelas, sekira pukul 03.00 dini hari, 23 Juli 2016
Fenomena bulan bercincin terjadi di langit Sumedang terlihat jelas, sekira pukul 03.00 dini hari, 23 Juli 2016
loading...

SUMEDANGONLINE : Fenomena bulan bercincin terjadi di langit Sumedang terlihat jelas, sekira pukul 03.00 dini hari, 23 Juli 2016. Masyarakat yang melihat itu sempat memberi tahu redaksi SumedangOnline, melalui pesan singkat.
“Lihat ke luar ada fenomena alam, bulan seperti dilingkari cincin,” tulis seseorang pada redaksi.
Penasaran dengan informasi itu, ketika redaksi melihat keluar ternyata memang tampak cincin yang sudah berukuran besar melingkari bulan yang terlihat berwarna putih. Dari pantau kamera, tampak ada warna-warni cahaya yang mengelilingi, meski pun tidak tampak begitu jelas. Namun, terlihat paling dominan berwarna putih dan kuning keemasan.
Informasi dihimpun, dari sisi ilmiah fenomena cincin di sekitar bulan atau yang disebut halo tidak mirip dengan halo matahari. Halo bulan umumnya pada malam hari dan berwarna putih namun halo matahari menampilkan pelangi berbentuk lingkaran.
Halo bulan disebabkan oleh pembiasan cahaya bulan yang merupakan cermin sinar matahari, dari kristal es di bagian atas atmosfer.
Pembekuan super tetesan air dingin dan ada di awan cirrus yang terletak di ketinggian 20.000 kaki atau lebih melahirkan kristal es. Kristal ini berperilaku seperti permata pembiasan, dan mencerminkan ke arah yang berbeda.
Halo berasal dari sinar yang melewati sisi enam kristal es di atmosfer tinggi. Kristal es ini membiaskan atau menekuk cahaya dengan cara yang sama seperti belokan lensa kamera cahaya.
Cincin ini memiliki diameter 22 derajat. Kadang-kadang, jika beruntung, bisa dilihat cincin kedua, yang berdiameter 44 derajat. Bentuk kristal es menghasilkan fokus cahaya ke dalam sebuah cincin.
Keberadaan kristal es yang biasanya memiliki bentuk yang sama, bentuk heksagonal sehingga cincin bulan hampir selalu berukuran sama.
Lingkaran cahaya bisa dihasilkan oleh sudut pandang yang berbeda dalam kristal, dan lingkaran cahaya dapat dibentuk dengan sudut 46 derajat.***

3 COMMENTS

  1. Peristiwa Matahari dikelilingi bulatan yang terjadi itu dalam astronomi dinamakan HALO. Ia adalah salah satu jenis fenomena optik di atmosfer seperti halnya juga kejadian pelangi. “Halo” berasal dari bahasa Yunani yang artinya Lingkaran Bulan, namun sekarang umumnya diartikan sebagai lingkaran cahaya yang mengelilingi Bulan atau Matahari.

    Lingkaran Halo merupakan salah satu fenomena optik seperti halnya pelangi yang disebabkan pembelokan cahaya oleh unsur atmosfer. Halo disebabkan adanya pembelokan cahaya oleh kristal es di lapisan awan tinggi yakni awan Cirrostratus. Awan ini merupakan kombinasi awan Cirrus dan Stratus. Awan Cirrostratus berada pada ketinggian lebih dari 6 km di atas permukaan air laut. Termasuk kelompok awan tinggi lainnya yaitu Cirrus, Cirrocumulus dan Cumulonimbus. Awan Cirrostratus memiliki sifat tipis, tersebar merata dan hampir transparan sehingga masih dapat ditembus cahaya bulan maupun matahari. Karena ketinggiannya (suhu dingin dibawah O° C) awan ini membentuk butiran lembut kristal es berbentuk tabung heksagonal (tabung segi enam) dengan ukuran berkisar antara 0,01 mm sampai 1 mm. Saat cahaya Matahari atau Bulan menerobos lapisan ini sebagian cahayanya akan mengalami pembiasan dan mengumpul membentuk pola lingkaran.

  2. Kadang kita juga mendapatkan HALO dalam dua pola lingkaran yaitu lingkaran dalam dan lingkaran luar. Lingkaran ini masing-masing memiliki jari-jari sudut lingkaran sebesar 22° dan 46° disebabkan perbedaan ukuran dan arah sudut datang cahaya terhadap butiran kristal. Jadi saat kita melihat Halo jika jari-jarinya hanya selebar 1 jengkal tangan yang direntangkan maka itu termasuk Halo yang 22°. Nah malam ini yang terlihat itu kira2 yang mana ya..? Ya, yang paling sering memang 22° jadi ketika diukur pake tangan kira-kita 1 jengkal tangan dari pusat Bulan sampai tepinya.

    Terjadinya fenomena Halo juga bisa menjadi indikator bahwa di atas atmosfer kita terdapat awan Cirrostratus. Seperti kita ketahui bahwa awan ini adalah awan pembawa hujan sehingga munculnya Halo bisa menjadi pertanda akan turun hujan. Memang bisa menjadi bahaya jika hujan yang turun disertai angin ribut dan banjir, namun sains menjawab, Halo BUKAN pertanda akan datangnya bencana atau malapetaka di Bumi ini. Semua itu adalah merupakan Kebesaran ALLOH…!