Ini alasan kenapa Aher larang jaring apung di Jatigede

1 September 2016 23:04 WIB
 
0
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan saat diwawancara wartawan, usai acara Launching Ikan Mas Marwana dan Nila Nirwana III, Penebaran Benih Ikan yang ke-10 Juta Ekor dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan, di Lapang Sembada Desa Sukaratu, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Kamis (1/9/2016).
Pitriyani
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan saat diwawancara wartawan, usai acara Launching Ikan Mas Marwana dan Nila Nirwana III, Penebaran Benih Ikan yang ke-10 Juta Ekor dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan, di Lapang Sembada Desa Sukaratu, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Kamis (1/9/2016).
loading...

SUMEDANGONLINE: Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, kembali menekankan pelarangan adanya jaring apung di kawasan Bendungan Jatigede. Alasan utamanya kata Aher -sebutan untuk Ahmad Heryawan- ia merasa hawatir, pemanfaatnya justru hanya dirasakan oleh kelompok pemodal saja.
“Sebab manfaatnya saya hawatir tentu hanya pada kelompok pemodal saja, dan masyarakat sekitar tidak kebagian,” kata Aher usai acara Launching Ikan Mas Marwana dan Nila Nirwana III, Penebaran Benih Ikan yang ke-10 Juta Ekor dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan, di Lapang Sembada Desa Sukaratu, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Aher membolehkan siapa pun untuk mengambil ikan di Jatigede, asalkan menggunakan pancing. Jika pun menggunakan jaring, jaring yang diperbolehkan hanya kecrik.
“Kita akan batasi hanya mancing. Paling kalau pakai jaring, jaringnya jaring kecrik, itu boleh. Tapi untuk jaring besar tidak boleh karena merugikan yang lain. Kan ini milik bersama, siapa pun boleh mengambil,” jelasnya.
Alasan lainnya tidak diperbolehkannya jaring apung, lantaran keramba dan jaring apung disinyalir dapat merusak perairan, air bendungan menjadi kotor dan menyebabkan turbin cepat rusak.
“Oleh karena itu. Kita, akan biarkan air ini, air yang natural. Ikannya pun ikan yang natural lepas dan dinikmati secara natural pula dengan penuh kenikmatan dan kebahagiaan,” tandasnya.
Disinggung kenapa pihaknya membatasi pengambilan ikan, karena dikatakan Aher, Jatigede bukan lautan bebas yang bisa memakai jaring besar yang sekali tangkap bisa menghasilkan ikan hingga 1 ton.
“Ini kan berbahaya, yang lain bisa tidak kebagian. Oleh karena itu agar semua bisa kebagian, masyarakat bisa menikmati dengan baik, masyarakat memperoleh gizi dengan mudah. Mau gizi, mau ikan? udah ke jatigede mancing, pulang ke rumah goreng ikan. Kan sangat sederhana. Dan ikannya tersedia dengan jumlah yang cukup, karena 25 juta itu saya kira cukup,” imbuhnya. ****