GUNEM CATUR: “Opat Pasagi Kalima Pancer”

Tapi jangan salah Pak…! China itu BUKAN memberikan hibah…! Namun PINJAMAN yang harus dibayar oleh Rakyat…!

3

ON AIR di eRKS 106,1 FM pada hari Senin (10 Mei 2010) jam 20.00 WIB dengan suasana yang begitu bersahaja dan Sumedang Banget…!

Terlepas dari segala kekurangan dalam prasarannya, yg perlu diacungkan jempol adalah kelebihannya…, yaitu keinginannya untuk maju (improvement) dan tidak mau ketinggalan…! Sehingga pada saat ini informasi tentang Sumedang sudah bisa diterima di seluruh Dunia yg disebarluaskan melalui siaran langsung Streaming Radio (www.radio.sumedangonline.com)

Dari pembicaraan melalui teleconference dengan Bpk. Herman Suyatman dari Bappeda Sumedang, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi perihal Rencana Pembangunan dan Pengembangan Sumedang untuk jangka Pendek dan Jangka Panjang dalam rangka menghadapi proyek-proyek besar yang sedang dan akan segera dilaksanakan, yaitu : Waduk Jatigede, Tol Cisumdawu dan Bandara Kertajati.

Proyek tersebut adalah merupakan “Proyek Pusat” yang kebetulan lokasinya berada di Kab.Sumedang, dengan demikian kebijakan dan keputusannya ada ditangan para Pejabat Pusat, sementara untuk Sumedang proyek tsb.tidak lebih hanya “given”, namun demikian yang menjadi objek penderita tentunya adalah masyarakat Sumedang dan sekitarnya.

Terlepas dari itu semua…, hal ini adalah merupakan tanggungjawab semua pihak untuk sama-sama mengsikapinya dengan baik, guna dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat.

Adalah sudah menjadi rahasia umum, kalau kebijakan dalam suatu proyek besar tidak terlepas dari tekanan Politik dan unsur Permodalan, karena hampir semua proyek-proyek besar permodalannya dibiayai oleh bantuan asing, namun syaratnya Negara yang memberikan bantuan itu harus ikut terlibat dan bahkan langsung sebagai pelaksana pembangunan proyek tsb.

3 COMMENTS

  1. kang jangan salah made in china lebih bagus dari made in indonesia, terus kenapa banyak orang chinanya? jangan salah nuboga hajatna urang batur jadi teu aneh nukitu mah, nu aneh mah anggaran di biayai oleh APBN tapi yang kerja orang cina tah kumaha ari kitu?
    nupenting mah PEMDA SUMEDANG kudu mimiti ngalatih urang urang sekitar genangan supaya ngarti ngamampaatkeun hasil gawe urang batur, tapi lamun nu mimpina urang batur rek kumaha? keun bae rek salangsara oge nu penting mah PARTAI BERDIRI DAN BERJAYA puas ari kitu? hadena kuring mah dilembur batur lamun dilembur sorangan mah asa rek bunuh diri ninggali perkembangan kabupaten sumedang asa beki ripuuuuuuuuuuh

  2. Sampurasun Kang Ependi…!
    Ternyata kebijakan Pemerintah di Indonesia itu, yg lebih dominan adalah aspek “POLITIK” ketimbang TEKNIS dan SOSIAL, tidak memikirkan dampak teknis serta lingkungan Masyarakat di sekitarnya….!

    Dan anehnya lagi kenapa biaya hanya 2,2T sampai harus “menggadaikan diri” ke RRC, sementara 6,7T (Bank Century) MENGUAP begitu saja…!

    katanya dapat berpengaruh thd “systemic” namun buktinya nilai Rp.tidak pernah menguat malah INFLAS-nya yg semakin besar.

    (kumaha atuh nya…? kalahka PANSUS wae di mana-mana..!).

  3. Tolong turunkan tim percepatan Pembayaran Sisa Kekurangan 1984 dan salah klasifikasi untuk desa Sukakersa jangan biarkan kami tenggelam bersam desa kami. Sudah desanya ditenggelamkan warganya juga harus ikut “tenggelam”.Teungteuingeun…..beu wet ku tega nya….”abong ka jalma leutik….meus meus katincak – meus katincak”…KALAU BISA DIPERCEPAT KENAPA DIPERLAMBAT KALAU BISA DIPERMUDAH KENAPA DIPERSUSUAH.