Demiz: Media Mainstream Harus Bisa Tolak Berita Sampah

9 March 2017 23:12 WIB
 
1
Wakil Gubernur Jawa Barat saat menyimak tausyiah.
Pitriyani
Wakil Gubernur Jawa Barat saat menyimak tausyiah.

SUMEDANG – Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mizwar mengharapkan agar pengguna media social dapat bersikap cerdas saat memposting dan mencuit tulisannya. Karena sebut Dedi, apa yang dilakukannya di media public tersebut dapat berdampak langsung pada orang lain, bahkan berbalik pada dirinya sendiri.
Hal itu dikatakan wakil gubernur yang dikenal dengan Jenderal Naga Bonar tersebut saat menghadiri acara Majelis Taklim Bersatu dan Milad Harian Pagi Sumedang Ekspres (Jawa Pos Grup) yang ke-7 di Masjid Agung Sumedang, Jawa Barat, Kamis (9/3).
Lanjut dia, ironisnya adanya media social tersebut dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kegaduhan. Sehingga mereka-mereka yang tahap literasinya rendah akan sangat mudah terprovokator.
”Belakangan ini fenomena media sosial telah juga dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan keresahan masyarakat, yaitu dengan cara sengaja menghebuskan hoax (berita palsu). Terutama yang berbau sara dan isu-isu sensitive lainnya. Dan celakanya kecendrungan pengguna media sosial yang tidak tercermat, menjadikan berita bohong semakin tersebar luas, akibatnya tidak sedikit kegaduhan bahkan terjadi konflik horizontal yang terjadi akibat terprovokasi oleh berita palsu dan bahkan fitnah yang kandung tersebar luas,” kata Jendral Naga Bonar itu.
Karena hal itulah, lanjut dia, literasi media menjadi penting agar para pengguna sosial menjadi sadar, cermat dalam menyikapi bertebarnya berita palsu yang kerap mewarnai lini masyarakat media social saat ini.
”Jadi pada saat yang sama, media massa mainstream harus ambil bagian untuk menolak berita sampah. Antara lain dengan terus memperkuat profesionalistas dari para wartawannya dan meramu beritanya,” tambahnya.
Selain itu, sebut dia media massa mainstream harus cepat menyesuaikan dengan tren media digital untuk membangun penggunaan internet yang positif. Karena, kata Dedi Mizwar menurut hasil sebuah survey penggunaan internet tertinggi terhadap jejaring sosial 87,5 persen, kemudian pencarian berita hanya 57 persen saja.
”Jadi dengan kehadiran media main stream yang berbentuk digital maka diharapkan kebutuhan informasi yang cepat dan terpercaya dapat terpenuhi, agar public tidak mudah termakan berita palsu,” tutupnya. ***

1 COMMENT