Ada dolmen di Bukit Taman, belum diteliti

27 August 2016 02:24 WIB
 
0
BERFOSE: Warga yang turut hicking ke Bukit Taman, berfose di atas dolmen, yang hingga kini belum diteliti.
ISTIMEWA
BERFOSE: Warga yang turut hicking ke Bukit Taman, berfose di atas dolmen, yang hingga kini belum diteliti.

Banyak artefak peninggalan masa lalu di Kabupaten Sumedang yang belum tergali, salahsatunya di Desa Tamansari, Kecamatan Cibugel. Di desa hasil pemekaran Desa Sukaraja itu, sedikitnya ada 14 makam leluhur yang ada kaitannya dengan ka-Sumedang-an. Salahsatunya di bukit Taman, yang menjadi cikal bakal nama Tamansari.

HAWA dingin membalut perjalan kami menuju bukit Taman di Desa Tamansari, Kecamatan Cibugel, padahal jarum jam sudah menunjukan angka 11.00, namun tidak dengan kuncen dan penduduk setempat yang turut hicking. Rasa lelah dalam perjalanan menempuh waktu dua jam dengan jalan kaki, sepanjang 3-4 kilometer, terobati dengan ke-elokan pesona alam yang masih alami, deretan pohon pinus di kiri kanan jalan seperti menyambut kedatangan kami.
“Kalau dulu di hutan ini memang tidak boleh ada masyarakat yang mengambil kayu atau bambu, kalau ada yang mengambil biasanya kata orang-orang dulu, suka ada angin besar yang mengikuti. Sama kejadiannya seperti di area pemakaman Wangun, kadang orang yang usil itu akan kesasar dan berputar-putar di sana,” ungkap Mantan Kades Tamansari, Sungkawa, yang turut dalam perjalanan bersama kami, Sabtu (7/1/2012).
Cerita-cerita berbau mistik itulah, yang dipertahankan warga setempat, hingga enggan untuk ngagunasika (merusak) bukit Taman. Imbasnya ekosistem alam di hutan tersebut tetap terpelihara dan tak terganggu, bahkan menurut penuturan, Maman Suherman, salah seorang guru. Terkadang masih ada masyarkat yang melihat si belang (macan) berada di sana.
“Masyarakat kita memang lebih percaya terhadap pakem (ajaran) dari leluhur,” papar Maman Suherman, menimpali perbibancangan kami.
Kedatangan kami ke bukit Taman, penasaran dengan berbagai cerita di masyarakat setempat jika di bukit Taman, terdapat dolmen (meja batu) dengan lebar 60 centimeter dan panjang 1,2 meter, serta sebuah lisung berdiameter 50 centimeter. Yang hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut, berapa lama usia dolmen dan semasa apa dolmen tersebut dibuat.
“Sebenarnya sudah lama tempat ini (Bukit Taman) ditemukan oleh warga, dan mereka sudah mengetahui tentang keberadaan dolmen tersebut, namun sejauh ini belum ada penelitian baik dari geoligi maupun arkeologi,” ujar Maman.
Di puncak bukit seluas 5 hektare yang merupakan area Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumedang tersebut, di sampingnya terdapat rawa sekitar satu hektar. Rawa itu lah yang menjadi salahsatu sumber air dan kehidupan masyarakat Desa Tamansari.
“Itu merupakan sumber air masyarakat Desa Tamansari, namun sekarang sudah keluar dari ranah taman palayangan handap (sudah hampir habis), makanya sekarang harus segera di tanggul, namun waktu penanggulannya jangan sekarang, nanti saja kalau sudah turun hujan. Karena, kalau ditanggul musim kemarau, kasian masyarakat tidak ada sumber air lagi,” ujar Tokoh Masyarakat Desa Tamansari, Karmat (82).